Sunday, August 2, 2015

Jenis Karya Seni Rupa 3 Dimensi


Seperti juga karya seni rupa dua dimensi, dilihat dari fungsinya karya seni rupa tiga dimensi dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

  1. Karya yang mempunyai fungsi pakai (seni rupa terapan - applied art)
  2. Karya seni rupa yang hanya mempunyai fungsi ekspresi saja (seni rupa murni - pure art).

Perbedaan fungsi ditentukan oleh tujuan pembuatannya. Karya seni rupa sebagai benda pakai yang mempunyai fungsi praktis dibuat dengan pertimbangan kegunaannya. Dengan demikian bentuk benda atau karya seni rupa itu akan semakin indah dilihat dan semakin nyaman digunakan. Tahukah kalian bahwa sepeda motor yang kita kendarai, mobil yang kita tumpangi, kursi yang kita duduki, komputer dan laptop yang kalian gunakan adalah juga karya seni rupa tiga dimensi? Coba kalian jelaskan mengapa benda-benda itu dikategorikan karya seni rupa tiga dimensi.

Jenis Karya Seni Rupa 3 Dimensi

Perhatikan gambar di atas, dapatkah kalian membedakan karya seni rupa 3 dimensi yang mempunyai fungsi pakai dan yang mempunyai fungsi ekspresi saja? Pilih jenis karya apa seni rupa 3 dimensi yang ada pada gambar itu dan jelaskan alasan kalian menentukan jenis karya itu. Diskusikanlah jawaban kalian dengan teman-teman kalian.

Pengertian Karya Seni Rupa 3 Dimensi



Pada artikel Seni Rupa 2 Dimensi kita dapat mempelajari tentang Unsur-unsur pada Seni Rupa 2 Dimensi. Kalian tentu juga sudah dapat membedakan karya seni rupa dua dimensi dengan karya seni rupa tiga dimensi, kalau belum silahkan baca di artikel ini. Unsur ruang merupakan salah satu ciri pembeda antara karya dua dimensi dengan tiga dimensi. Obyek karya seni rupa dua dimensi hanya bisa di lihat dari satu sisi saja, tetapi karya tiga dimensi dapat di lihat lebih dari dua sisi.


Kalian sudah mengetahui bahwa karya seni rupa ada yang berdimensi 2 dan berdimensi 3. Kalian juga sudah mencoba berkarya seni rupa dua dimensi. Pada bahasan ini kalian akan diajak memahami karya seni rupa 3 dimensi. Di sekitar kalian banyak sekali benda tiga dimensi, tapi tahukah kalian mana saja yang dikategorikan karya seni rupa tiga dimensi? Seperti juga karya seni rupa 2 dimensi, pada karya seni rupa 3 dimensi juga mengandung unsur garis, bentuk, bidang, warna disusun sedemikian rupa sehingga membentuk obyek tertentu. Karya seni rupa 3 dimensi ada yang mempunyai fungsi pakai dan ada yang mempunyai fungsi hias saja. Untuk berkarya seni rupa 3 dimensi ini kalian dapat memilih dan mencoba berbagai bahan, teknik dan medium sesuai dengan obyek dan fungsi yang kalian inginkan.

Ketika kalian melihat sebuah karya seni rupa 3 dimensi, aspek apa saja yang kalian lihat? Coba kalian amati gambar di bawah ini untuk mengidentifikasi aspek-aspek itu!

Pengertian Karya Seni Rupa 3 Dimensi


  1. Dapatkah kalian mengidentifikasi bahan yang digunakan pada karya seni rupa 3D itu?
  2. Dapatkah kalian mengidentifikasi teknik yang digunakan pada karya seni rupa 3D itu?
  3. Dapatkah kalian mengidentifikasi medium yang digunakan pada karya seni rupa 3D itu?
  4. Dapatkah kalian menunjukkan unsur-unsur rupa yang terda- pat pada karya seni rupa 3D itu?
  5. Obyek apa saja yang terdapat pada karya seni rupa 3D itu?
  6. Bagaimanakah penataan unsur-unsur rupa pada karya seni rupa 3D itu?
  7. Manakah karya seni rupa 3D yang mempunyai fungsi benda pakai?
  8. Manakah karya seni rupa 3D yang paling menarik menurut kalian? Jelaskan alasan ketertarikan kalian!


Agar lebih memahami karya seni rupa tiga dimensi, kalian wajib memahami jenis, simbol dan nilai estetis. Selanjutnya, cermati dengan cara melihat secara langsung karya seni rupa tiga dimensi yang ada disekitar kalian. Mengunjungi pameran ataupun melihat dari berbagai reproduksi karya seni rupa di media cetak atau elektronik besar manfaatnya dalam menambah kemampuan kalian.

Karya tiga dimensi terwujud dari berbagai bahan dan medium yang beraneka ragam. Karakter unik dari masing-masing bahan dan medium ini membutuhkan berbagai perangkat dan teknik pengolahan serta penggarapan untuk mewujudkan karya seni rupa itu. Bahan dan medium yang digunakan untuk berkarya seni rupa tiga dimensi dapat berupa bahan alami atau bahan sintetis. Karya seni rupa tiga dimensi ada yang berfungsi sebagai benda pakai yang biasa disebut karya seni terapan (applied art) dan ada yang dibuat dengan tujuan ekspresi semata yang biasa disebut seni murni (pure art)

Nilai estetis karya seni rupa tiga dimensi tampak secara visual dari wujud karya seni rupa itu. Unsur-unsur rupa (unsur fisik) disusun menggunakan prinsip-prinsip penataan (unsur nonfisik) membentuk komposisi wujud karya yang unik dan menarik. Nilai estetis karya seni rupa bersifat obyektif dan subyektif. Nilai obyektif terdapat pada karya seni rupa itu sendiri sedangkan nilai subyektif berada pada penikmatnya.

Karya seni rupa ada yang mempunyai makna simbolik. Unsur-unsur rupa yang terdapat pada karya seni rupa tiga dimensi dapat menunjukkan atau menjadi simbol dari sesuatu.

Berkarya seni rupa tiga dimensi dimulai dengan mencari ide gagasan atau model karya yang akan dibuat. Kegiatan ini dapat diawali dengan membuat rancangan berupa sketsa, dilanjutkan dengan memilih medium, bahan, perangkat dan teknik yang akan digunakan. Alasan-alasan pemilihan gagasan, model hingga teknik berkarya dapat disebut sebagai konsep berkarya seni rupa.

Refleksi

Kekayaan seni budaya Nusantara menghasilkan beraneka ragam karya seni rupa tiga dimensi. Keunikan karya seni rupa tiga dimensi menunjukkan latar belakang budaya, keterampilan dan kreativitas para perupanya. Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki menyumbangkan bermacam-macam bahan dan medium untuk berkarya seni rupa tiga dimensi.

Kalian telah menjadi seorang perupa dengan mencoba membuat karya seni rupa tiga dimensi. Melalui proses berkarya seni rupa itu kalian belajar untuk tekun, disiplin dan bertanggung jawab serta menghargai karya seni rupa yang dihasilkan. Tidak ada karya yang jelek jika kalian sungguh-sunguh mengerjakannya. Setiap karya yang dihasilkan oleh seorang perupa memililki keindahan dan keunikannya tersendiri. Melalui penyajian karya dan saling memberikan tanggapan pada karya yang disajikan, kalian belajar untuk berani mengemukakan pendapat, memupuk rasa percaya diri dan terutama saling menghargai perbedaan, menghargai keragaman yang Tuhan anugerahkan kepada kita semua.

Proses dan Berlatih Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi

Karya seni rupa mempunyai bentuk dan fungsi yang beraneka ragam. Berdasarkan dimensinya kita mengenal karya seni rupa dua dan tiga dimensi. Karya dua dimensi terwujud dari bergai bahan dan medium yang beraneka ragam. Karakter unik dari masing-masing bahan dan medium ini membutuhkan berbagai perangkat dan teknik pengolahan serta penggarapan untuk mewujudkan karya seni rupa itu. Bahan dan medium yang digunakan untuk berkarya seni rupa 2 dimensi dapat berupa bahan alami atau bahan sintetis. Keindahan karya seni rupa tampak secara visual dari bentuk dan obyek pada karya seni rupa itu. Unsur-unsur rupa (unsur fisik) disusun menggunakan prinsip-prinsip penataan (unsur nonfisik) membentuk komposisi obyek gambar atau lukisan yang unik dan menarik.

Obyek pada karya seni rupa dua dimensi dapat berwujud abstrak atau dapat juga menyerupai kenyataan yang ada disekitar kita. Mahluk hidup dan benda mati dapat digunakan sebagai model objek berkarya seni rupa dua dimensi. Melalui serangkaian tahapan proses berkarya seni rupa dua dimensi akan terwujud karya seni rupa dua dimensi yang unik dan menarik. Untuk terampil berkarya seni rupa tidak hanya ditentukan oleh bakat, akan tetapi terutama oleh latihan dan kesungguhan dalam berkarya.

Kemampuan berkarya seni rupa adalah anugerah Tuhan yang patut kalian syukuri. Kemampuan ini disyukuri oleh banyak perupa dengan membuat berbagai karya seni rupa yang memiliki manfaat bagi dirinya atau sesamanya baik secara fisik atau bathin. Kekayaan alam Nusantara kita syukuri sebab memiliki keanekaragaman objek dan bahan yang dapat digunakan untuk berkarya seni rupa dua dimensi. Budaya Nusantara yang beraneka ragam menghasilkan banyak karya seni rupa dua dimensi yang membanggakan di dunia internasional. Kita patut merasa bangga, pengakuan UNESCO pada Batik sebagai salah satu warisan dunia tidak benda menunjukkan penghargaan dunia Internasional pada karya seni rupa yang adalah bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Kalian telah mencoba membuat karya seni rupa dua dimensi. Melalui proses berkarya seni rupa itu kalian belajar untuk tekun, disiplin dan bertanggung jawab serta menghargai karya seni rupa yang dihasilkan. Tidak ada karya yang jelek jika kalian sungguh-sunguh mengerjakannya. Setiap karya yang dihasilkan oleh teman kalian memilki keindahan dan keunikannya tersendiri. Karya yang indah tidak selalu karya yang mirip dengan kenyataan yang digambarkannya. Melalui penyajian karya dan saling memberikan tanggapan pada karya yang disajikan, kalian belajar untuk saling mnghargai perbedaan, menghargai keragaman yang Tuhan anugerahkan kepada kita semua.

Proses Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi

Karya seni rupa 2 dimensi tidaklah tercipta dengan sendirinya. Pembuatan karya seni rupa 2 dimensi harus dilakukan melalui sebuah proses secara bertahap. Tahapan dalam berkarya ini berbeda  antara satu jenis karya dengan jenis karya lainnya mengukuti karakteristik bahan, teknik, perangkat dan medium yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa itu.

Tahapan pertama dalam berkarya seni rupa dua dimensi ini adalah adanya motivasi untuk berkarya. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri atau dari luar diri perupanya. Benda-benda yang kecil atau hal-hal sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi ide untuk berkarya seni rupa dua dimensi. Cobalah perhatipkan benda-benda dan peristiwa sehari-hari disekitar kita lalu kembangkan hasil pengamatan anda menjadi gagasan berkarya seni rupa. Pilihlah bahan, media , perangkat dan teknik yang kalian kuasai dan ingin anda coba. Mulailah berkreasi menciptakan karya seni rupa.

Perharikan karya seni rupa dua dimensi gambar karikatur tokoh Naruto berikut ini ceritakan kembali langkah-langkah dalam proses berkarya seni rupa dua dimensi yang ditunjukan oleh gambar karikatur itu.

Proses dan Berlatih Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi


Berlatih Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi

Proses dan Berlatih Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi

Amati karya seni rupa dua dimensi di atas, perhatikan obyek pada masing-masing karya itu. Kalian tentu dapat membedakan mana objek yang merupakan makhluk hidup dan mana obyek benda mati. Kalian juga dapat mencoba mengidentifikasi bahan dan teknik yang digunakan untuk membuat karya itu. Sekarang cobalah berlatih untuk membuat karya seni rupa dengan melihat model benda mati dan mahluk hidup yang ada disekitar kalian. Mulailah dengan model yang bentuknya sederhana terlebih dahulu. Cobalah amati kembali bagaimana unsur-unsur rupa dan prinsip-prinsip penataannya membentuk sebuah obyek dalam karya seni rupa. Jangan takut salah atau malu jika karya kalian tidak terlalu mirip dengan model yang kalian jadikan contoh.

Keindahan sebuah karya tidak hanya kemiripan bentuknya saja, tetapi kesungguhan dalam membaut karya itu akan menjadikan karya kalian unik dan menarik. Setiap manusia mempunyai karakter dan keunikan yangbeda -beda, demikian juga dengan karya yang kalian buat. Cobalah berkali-kali menggunakan berbagai model, bahan, teknik dan medium yang berbeda -beda. Rasakan oleh kalian dan kemukakan obyek mana yang menurut kalian paling menarik, bahan, media, dan teknik apa yang kalian sukai. Jelaskan mengapa obyek itu menarik dan bahan, media serta teknik itu kalian sukai.

Sajikan karya kalian bersama-sama lalu diskusikan bersama-sama berilah tanggapan tidak hanya pada karya yang kalian buat tetapi karya yang dibuat teman-teman yang lain.


Tuesday, July 28, 2015

Medium, Bahan, dan Teknik Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi


Sebelum melaksanakan kegiatan berkarya seni rupa 2 dimensi, sangat penting untuk kalian untuk mempunyai pengetahuan dan pemahaman berbagai alat, bahan, dan teknik yang biasa digunakan dalam praktek berkarya seni. Usaha untuk mengenal karakter bahan, alat, dan teknik ini dengan baik hanya dapat kalian lakukan dengan kegiatan praktek secara langsung. Cobalah melaksanakan kegiatan apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan aplikatif. Dengan demikian, selain wawasan apresiasi kalian semakin kaya, keterampilan kalian dalam berkarya seni rupa juga akan menjadi lebih baik

1. Medium dan Bahan Karya Seni Rupa

Bahan berkarya seni rupa adalah material habis pakai yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa itu. Sesuai dengan keragaman jenis karya seni rupa, bahan untuk berkarya seni rupa ini juga banyak macam dan ragamnya, ada yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula sebagai bahan penunjang. Sebagai contoh, pada biasanya perupa membuat karya lukisan menggunakan kanvas dan cat sebagai bahan utamanya serta kayu dan paku sebagai bahan penunjang. Kayu digunakan sebagai bahan bingkai (spanram) untuk menempatkan kanvas dan paku untuk mengaitkan kanvas pada permukaan kayu bingkai itu.

Bahan untuk berkarya seni rupa dapat dikategorikan menjadi bahan alami dan bahan sintetis berdasar sumber bahan dan proses pengolahannya. Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam. Bahan-bahan ini dapat digunakan secara langsung tanpa proses pengolahan secara kimiawi di pabrik atau industri terlebih dahulu. Adapun bahan baku olahan adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses pabriksasi atau industri tertentu menjadi bahan baru yang mempunyai sifat dan karakter khusus. Berdasarkan sifat materialnya, bahan berkarya seni rupa ini dapat juga dikategorikan ke dalam bahan keras dan bahan lunak, bahan cair dan bahan padat dan sebagainya.

Medium, Bahan, dan Teknik Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi

2. Alat Berkarya Seni Rupa

Alat untuk berkarya seni rupa sangat banyak jenis dan ragamnya. Beberapa karya seni rupa bahkan mempunyai peralatan khusus yang tidak dipergunakan pada jenis karya lainnya. Tetapi ada juga perangkat atau bahan yang dipergunakan nyaris disemua proses berkarya seni rupa. Alat-alat tulis (gambar) misalnya, adalah peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan nyaris seluruh jenis karya seni rupa, terutama saat membuat rancangan karya seni itu.

Dalam berkarya seni rupa dua dimensi setidaknya dikenal beberapa kategori perangkat utama untuk berkarya yaitu perangkat untuk membentuk, menggambar dan mewarnai serta perangkat mencetak (mendupilkasi). Seperti juga bahan, selain kategori perangkat utama itu, kita juga mengenal alat-alat bantu lainnya yaitu alat-alat yang peruntukannya tidak secara khusus untuk kegiatan berkarya seni rupa tetapi sangat diperlukan dalam kegiatan berkarya seni rupa seperti: perangkat pemotong (pisau dan gunting), perangkat pengering, perangkat pengukur dan sebagainya. Alat-alat ini bersifat penunjang untuk memudahkan atau melancarkan proses pembuatan karya.

Karena kemajuan teknologi, saat ini semua fungsi perangkat yang dipergunakan dalam berkarya seni rupa relatif dapat dilakukan komputer. Walaupun demikian perlu disadari betul bahwa komputer hanyalah perangkat bantu. Karya seni bagaimanapun juga membutuhkan kepekaan rasa yang sulit dihasilkan oleh program komputer. Kepekaan rasa adalah kompetensi unik dan khas yang hanya dimilki manusia,beda  antara satu orang dengan orang lainnya.

3. Teknik Berkarya Seni Rupa

Dalam membuat karya seni rupa murni atau terapan dibutuhkan keterampilan teknis menggunakan perangkat dan mengolah bahan untuk mewujudkan objek pada bidang garap. Sebagai contoh, untuk mewujudkan sebuah objek dalam karya lukisan, seorang perupa atau seniman lukis dituntut menguasai keterampilan teknis menggunakan perangkat (kuas) dan mengolah bahan (cat) pada kanvas (medium). Seorang pematung dituntut menguasai keterampilan teknis menggunakan perangkat memahat dan mengolah bahan kayu untuk mewujudkan karya seni patung.

Karya seni rupa ada juga yang dinamai berdasar teknik utama yang digunakan dalam pembuatannya. Seni kriya Batik misalnya, menunjukkan jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik membatik, begitu pula Seni kriya anyam, untuk menamai jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik menganyam.

Beragam jenis dan karakteristik bahan yang digunakan dalam berkarya seni rupa memerlukan bermacam-macam alat dan teknik untuk mengolahnya. Suatu teknik berkarya seni rupa mungkin saja secara khusus digunakan sebagai teknik utama dalam mewujudkan satu jenis karya seni rupa tetapi mungkin juga digunakan untuk mewujudkan jenis karya seni rupa lainnya.

Tugas :

  1. Carilah bahan-bahan alam di daerah kalian yang dapat dipergunakan untuk berkarya seni rupa dua dimensi.
  2. Sebutkan berbagai perangkat yang dapat digunakan dalam berkarya seni rupa dua dimensi beserta fungsinya.
  3. Identifikasi masalah bermacam-macam teknik yang digunakan untuk mewujudkan bermacam-macam jenis karya seni rupa dua dimensi.

Friday, May 22, 2015

Tokoh-tokoh Seni Lukis Indonesia


Indonesia sangat dikenal di mata dunia dengan kekayaan alam, budaya, dan kulinernya yang beragam. Bukan hanya itu, Indonesia ternyata juga juga memiliki segudang seniman-seniman senirupa hebat yang juga sangat tersohor di dunia. Berikut ini Top 10 Pelukis Maestro Legendaris Indonesia versi JAVADESINDO Art Gallery, diapresiasi berdasar talenta, kontribusi dan dedikasi para pelukis tersebut dalam perkembangan bidang seni rupa khususnya karya seni lukis di Indonesia oleh para pengamat dan kritisi seni.

1. RADEN SALEH ( Semarang 1807 – 1880 )

Tokoh-tokoh Seni Lukis IndonesiaSalah satu Pelukis Maestro Legendaris Indonesia pada era sebelum kemerdekaan, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Raden Saleh adalah salah satu Pelukis Maestro Indonesia yang diakui sebagai Pelukis kelas Dunia. Karya-karya lukisanya adalah saksi sejarah, banyak menceritakan mengenai situasi pada jaman perjuangan dan kehidupan masyarakat khususnya Jawa. Salah satu karya lukisanya yang terkenal adalah “Penangkapan Diponegoro”, Raden Saleh juga memperoleh pengahargaan atas talenta karya seninya, sehingga Beliau memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk Studi di Negara Belanda dan Negara-negara Eropa lainya. Gaya aliran Lukisan saleh adalah gaya Naturalism, Realism dan Klasik.

Salah satu karya lukisan Raden Saleh berjudul " Berburu" media lukisan cat minyak diatas canvas, dikoleksi oleh Museum Mesdag, Belanda.

2. AFFANDI ( Cirebon 1907 – 1990 )

Tokoh-tokoh Seni Lukis IndonesiaMerupakan salah satu Pelukis Maestro Legendaris Indonesia yang namanya telah mendunia sebab karya-karya lukisan abstraknya yang unik dan berkarakter, dimana gaya lukisanya itu belum pernah ada, atau belum pernah diciptakan oleh pelukis sebelumya. Gaya aliran Lukisanya adalah gaya baru dalam aliran lukisan modern khususnya ekspresionism. Karya-karya Lukisanya banyak mendapatkan apresiasi dari para pengamat seni baik dari dalam dan luar negeri, beliau aktif berpameran tunggal di Negara-negara seperti: Inggris, Eropa, Amerika dan India, pada masa Tahun 1950-an.

Affandi adalah salah satu Pelukis yang paling produktif, dimana beliau telah menciptakan lebih dari 2 ribu lukisan selama hidupnya, karyanya telah tersebar diseluruh pelosok Dunia dan dikoleksi oleh para Kolektor kelas lokal dan Dunia.
Gaya aliran Lukisan Affandi adalah Abstrak yang masuk dalam bagian aliran ekspresionism.

Salah satu karya lukisan Affandi berjudul "Wajah - wajah putra Irian" , media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 98cm X 126cm, dibuat tahun 1974

3. BASUKI ABDULLAH ( Surakarta 1915 – 1993 )

Tokoh-tokoh Seni Lukis IndonesiaPelukis Maestro Legendaris Indonesia yang lahir di Surakarta, bakat dan talenta melukisnya yang luar biasa terlihat dari setiap karya Lukisanya, warna-warna yang terkombinasi matang, kehalusan goresan, kesempurnaan anatomi obyek dan komposisi obyek.

Basuki Abdullah semasa karirnya sebagai seorang Pelukis Maestro, pernah mengawali karirnya studi di Belanda, dan mengadakan perjalanan ke Negara-negar Eropa untuk memperdalam pengetahuanya mengenai Seni rupa, diantaranya adalah Negara Prancis dan Italia, Negara asal dari para Pelukis Maestro kelas Dunia ( Picasso, Leonardo da Vinci, Renoir, Monet, Paul Gaugin, Dll. ).

Salah satu prestasinya yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia di mata Dunia adalah kesuksesanya menjuarai lomba sayembara melukis pada waktu penobatan Ratu Yuliana (Belanda ) pada 6 September 1948, Basuki Abdullah menjadi juara dan berhasil menyingkirkan 87 Pelukis dari Eropa, beliau juga pernah diangkat menjadi Pelukis tetap di Istana Merdeka, dan karya-karyanya banyak menghiasi ruangan Istana Merdeka.

Semasa hidupnya Basuki Abdullah banyak menerima penghargaan baik dari dalam dan luar Negeri atas Dedikasinya dalam Dunia seni khususnya Lukisan, gaya aliran Lukisan Basuki Abdullah adalah Realism dan Naturalism.

Salah satu lukisan Basuk Abdullah berjudul " Diponegoro memimpin pertempuran " media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 150cm X 120cm, dibuat tahun 1940

4. HENDRA GUNAWAN ( Bandung 1918 – 1983 )

Hendra Gunawan lahir di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1918, dan Wafat di Denpasar, Bali. 17 Juli 1983. Hendra Gunawan adalah seorang pelukis, penyair, pematung dan pejuang gerilya. Selama masa mudanya dia bergabung dengan tentara pelajar dan adalah anggota aktif dari Poetera (Pusat Tenaga Rakyat) dan organisasi yang dipimpin oleh Sukarno dan lain-lain. Dia juga aktif dalam Persagi (Asosiasi Pelukis Indonesia, sebuah organisasi yang didirikan oleh S. Soedjojono dan Agus Djaya pada tahun 1938.

Tokoh-tokoh Seni Lukis IndonesiaHendra Gunawan mempunyai komitmen dalam pandangan politiknya, mengabdikan hidupnya untuk memerangi kemiskinan, ketidak adilan dan kolonialisme. Ia dipenjara di Kebon Waru atas keterlibatannya di Institut Budaya Populer (Lekra), sebuah organisasi budaya yang berafiliasi dengan komunis sekarang sudah tidak berfungsi, Partai Indonesia (PKI). Penahanan Hendra Gunawan selama 13 Tahun dimulai pada tahun 1965 hingga tahun 1978. Selama di dalam penjara beliau tetap aktif berkarya membuat lukisan bertema mengenai kehidupan masyarakat pedesaan pada jamanya, seperti: Panen Padi, berjualan buah, kehidupan nelayan, suasana panggung tari-tarian, dll. Hampir disemua Lukisanya berlatar belakang alam.

Dengan talenta sebagai seorang Pelukis senior dan mempunyai karakter karya Lukisan yang khas, menjadikan namanya masuk dalam daftar Pelukis Maestro Legendaris ternama Indonesia.

Karakter Lukisan beliau sangat berani dengan ekspresi goresan cat tebal, dan ekspresi warna kontras apa adanya, karya Lukisanya banyak dikoleksi oleh para kolektor dalam negeri. Perjalanan Aliran Lukisan karya Hendra Gunawan pada awalnya adalah realism yang melukiskan tema-tema mengenai perjuangan sebelum kemerdekaan, namun setelah era kemerdekaan, karya-karya lukisan ber metamorfosa kedalam aliran lukisan ekspresionism, tema-tema lukisanya mengenai sisi-sisi kehidupan masyarakat pedesaan.

Salah satu lukisan karya Hendra Gunawan berjudul " Mencari kutu rambut " media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 84cm X 65cm, dibuat tahun 1953.

5. S. SUDJOJONO (Kisaran, Sumatera Utara 1913 - 1985

Tokoh-tokoh Seni Lukis IndonesiaS. Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara 14 Desember 1913 , dan wafat  di Jakarta 25 Maret 1985. Soedjojono lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. Ayahnya, Sindudarmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, Sumatera Utara, beristrikan seorang buruh perkebunan. Dia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Yudhokusumo. Oleh bapak angkat inilah, Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama Batavia) pada tahun 1925. Dia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di Bandung, dan menyelesaikan SMA di Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Di Yogyakarta itulah dia sempat belajar montir sebelum belajar melukis kepada R.M. Pringadie selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, dia belajar kepada pelukis Jepang, Chioji Yazaki.

S. Sudjojono sempat menjadi guru di Taman Siswa seusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu. Dia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931. Namun dia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937, dia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis, Pada tahun itu juga dia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Oleh sebab itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Dia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara Persagi. Selain sebagai pelukis, dia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Lukisanya mempunyai karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas.

Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema mengenai semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun setelah jaman kemerdekaan lalu karya Lukisanya banyak bertema mengenai pemandangan Alam, Bunga, aktifitas kehidupan masayarakat, dan cerita budaya.

Salah satu lukisan karya S. Sudjojono berjudul " Seko (perintis gerilya), media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 173,5cm X 194cm

6. POPO ISKANDAR ( Garut, Jawa Barat 1929 – 2000 )

Sang Pelukis Maestro ini terkenal dengan ciri khas Lukisan bertema kucing, dilukis dalam gaya ekspresionism bernuansa minimalis, cat tebal dan bertekstur. Salah satu alasan Popo Iskandar gemar melukis kucing, seperti yang pernah beliau ucapkan semasa hidup “ Tabiat kucing variatif, manja, binal dan buas, tapi penurut. Karena itu saya menyukainya” katanya. Ia juga melukis tema-tema binatang lainya seperti ayam dan harimau.

Lukisan Popo Iskandar banyak dikoleksi dan sekaligus dijadikan sebagai icon dalam rumah bergaya modern dan minimalis, karya-karya Lukisanya banyak mendapatkan apresiasi dari para pengamat seni, baik dalam dan luar negeri.

Salah satu lukisan karya Popo Iskandar berjudul " Kucing mata hijau ", media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 30cm X 40cm

7. SRIHADI SOEDARSONO ( Solo 1931 )

Pelukis maestro asal Solo – Jawa Tengah, karya-karya Lukisanya adalah saksi perjalanan sejarah yang beliau goreskan sejak jaman kemerdekaan hingga jaman modern, tema mengenai perjuangan, kehidupan, alam dan cinta, semua terkumpul dalam karya-karya lukisanya, baik dalam sketsa atau dalam karya lukisan dengan berbagai media.

Srihadi Soedarsono adalah alumni ITB Tahun 1959, beliau juga mengenyam pendidikan di Ohio State University, Amerika Tahun 1960 – 1962. Belaiu pernah mengajar di ITB dan menjadi ketua Institut Seni Jakarta.

Srihadi Soedarsono termasuk pelukis produktif, yang banyak menciptakan karya-karya Lukisan berkualitas tinggi, dan sering mengadakan event pameran tunggal baik dalam dan luar negeri. Karyanya telah banyak dikoleksi kolektor berkelas, dan hingga saat ini lukisanya masih banyak diburu kolektor baik dalam dan luar negeri. Gaya aliran lukisan karya Srihadi Soedarsono masuk dalam gaya aliran lukisan modern kontemporer.

Salah satu lukisan karya Srihadi berjudul " Borobudur II ", media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 95cm X 140cm, dibuat tahun 1982

8. JOKO PEKIK ( Grobogan, Jawa Tengah 1938 )

Pernah mengenyam pendidikan ASRI di Jogja ( Akademi Seni Rupa Indonesia ) yang sekarang menjadi ISI ( Institut Seni Indonesia ), mempunyai gaya dan karakter Lukisan yang khas, beliau banyak mengkritisi dalam tatanan kehidupan sosial melalui karya Lukisanya.

Perjalanan hidupnya adalah petualangan getir menuju kesuksesan, sebab kasus LEKRA beliau dikucilkan dari masyarakat, karya-karya lukisanya tidak dihargai hingga pada era reformasi beliau mulai menemukan secercah harapan. Karya-karyanya mulai diapresiasi oleh para pengamat seni, dan beberapa karya Lukisanya yang bertema “Celeng” memperoleh apresiasi yang luar biasa dari para pengamat atau para pecinta Lukisan, sehingga karya Lukisan Joko pekik mulai diburu banyak kolektor dengan harga tinggi. Gaya aliran lukisan karya Joko Pekik masuk dalam gaya aliran lukisan realisme sosialis.

Salah satu lukisan karya Djoko Pekik berjudul "Berburu celeng" lukisan seharga Rp. 1 Miliar, dibuat tahun 1998.

9. JEIHAN SUKMANTORO ( Solo 1938 )

Sebagai salah satu Pelukis senior dengan karya-karya lukisan figuratifnya yang khas dan unik, dimana selalu melukiskan figur manusia dengan mata hitam pekat, seolah mengandung makna dan misteri yang dalam.

Kini karya lukisan Jeihan seolah menemukan makna baru dalam tema yang lebih religius, yang mungkin terinspirasi dari perjalanan Hajinya beberapa Tahun yang lalu.

Lukisan karya Jeihan harganya terus merangkak naik seiring dengan naiknya kepopuleran nama dan karya-karya Lukisanya. Lukisan karya Jeihan termasuk dalam gaya aliran lukisan figurative modern.

Salah satu lukisan Jeihan berjudul "Gadis berbaju putih" media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 60cm X 49cm, dibuat tahun 1975

10. WIDAYAT ( Kutoarjo, Jawa Tengah 1919 – 2002 )

Salah satu Pelukis Maestro asal Kutoarjo – Jawa Tengah, sebagian besar karya Lukisanya bertemakan Flora dan Fauna, terinspirasi dari pengalamanya yang membekas pada Tahun 1939 saat beliau pernah bekerja sebagai mantri opnamer ( juru ukur ) pada bidang kehutanan di Palembang selama tiga Tahun, dari pengamatanya mengenai alam, satwa dan tumbuhan selama beliau bekerja itulah yang mengilhami sebagain besar karya Lukisanya bertema mengenai Alam, tumbuhan dan fauna dilukis dalam gaya batik kontemporer.

Sang Pelukis maestro Widayat mengasah talentanya di ASRI ( Akademi Seni Rupa Indonesia ) Jogja, yang di lalu hari didaulat untuk mengajar di akademi seni rupa itu. Semasa hidupnya beliau sering mengadakan pameran baik tunggal ataupun kelompok, di dalam dan luar negeri ( Italy, Kuwait dan Singapura ). Beberapa penghargaan dibidang seni pernah disandangnya, atas dedikasinya dalam bidang seni rupa.

Friday, April 17, 2015

Tokoh-tokoh Seni Tari tradisional Indonesia



Setiap daerah di Indonesia melahirkan tokoh-tokoh seni tari tradisional. Tokoh-tokoh ini mendedikasikan hidupnya untuk pertumbuhan dan perkembangan tari tradisi. Di antara mereka ada yang hanya menjadi penari tetapi ada juga yang sekaligus menjadi penari dan pencipta tari. Mereka mencipta dan menari menjadi napas kehidupannya tanpa mengharapkan imbalan materi. Ada beberapa penari dan pencipta tari tradisional yang hidup serba pas-pasan tetapi tidak pernah mengeluh. Mereka terus berkarya dan menari menjaga warisan tradisi leluhur.

Retno Maruti adalah salah satu pencipta dan penata tari sekaligus penari. Dia mengembangkan tari Jawa terutama untuk gaya Surakarta. Karya-karyanya banyak dikagumi dan diminati oleh banyak pihak. Ciri khas pada karya Retno Maruti adalah memadukan bentuk Bedayan dan Langendriyan. Penari yang menyanyi sambil menari. Karya-karya Retno Maruti banyak mengambil cerita epos Ramayana seperti “Alap-Alap Sukesi”, “Dewabrata”, “Abimanyu Gugur”. Ide cerita diambil dari babad tanah Jawa

seperti “Ki Ageng Mangir” dan juga cerita mengenai kepahlawanan “Untung Suropati.” Retno Maruti membuat inovasi baru pada seni tradisional disesuaikan dengan kondisi terkini sehingga tetap relevan untuk ditonton sebagai seni pertunjukan.

Trisna Bulan Jelantik adalah salah satu tokoh dari sekian banyak tokoh penari dan penata tari tradisional Bali. Bulan Jelantik mengembangkan seni tradisi tari Bali. Ber­ ama dengan Retno Maruti membuat dramatari “Calonarang” yang memadukan konsep dua budaya berbeda Bali dan Jawa dalam bentuk Bedayan dan Langendriyan. Trisna Bulan Jelantik adalah penari yang menyanyi dan menari dalam dua budaya Jawa dan Bali dalam iringan musik yang sama.


Tokoh-tokoh Seni Tari tradisional Indonesia
Rasinah

Rasinah me­upa­ an salah satu maestro tari Topeng Cirebonan. Sepanjang­ hidup­­nya didedikasikan pada pertumbuhan seni tradisional Topeng Cirebon terutama untuk gaya Indramayuan. Iravati Durban juga salah satu tokoh yang senantiasa mengembangkan tari tradisional Sunda.

Huriah Adam merupa­kan salah satu tokoh seni tradisional tari Minang. Ia menggali semua potensi ragam gerak Randai ke dalam bentuk tarian baik dilakukan secara berkelompok atau perseorangan atau pasangan. Ragam gerak pencak silat merupa­kan materi pada tari tradisional Minang. Hurian Adam juga menciptakan tari Payung yang melihat bahwa budaya Minang juga mempunyai persinggungan dengan budaya Melayu. Huriah Adam berhenti dalam berkarya saat pesawat yang ditumpangi dari Jakarta menuju Padang hilang tidak berjejak sampai sekarang ini.

Tari Tradisional Kalimantan Barat : Jepin Gerangkang

Tari Jepin Gerangkang merupakan pengaruh dari kebudayaan Arab dan adalah tari tradisi Melayu yang berkembang di Kalimantan Barat satu diantaranya di daerah Batu Layang Kota Pontianak. Diperkirakan tari Jepin Gerangkang mulai berkembang tahun era 1740-an sampai dengan era 1970-an. Pada masa era nya, tari Jepin ini adalah media hiburan untuk berdakwah. Tari Jepin Gerangkang ini juga adalah satu diantara motif dari tari Jepin Tali. Disebut dengan Jepin Gerangkang sebab tarian ini menggunakan properti tali yang membentuk pola ikat berbentuk sarang laba-laba,kata Gerangkang sendiri mempunyai arti yaitu laba-laba. Tari Jepin ini mempunyai filosofi sebagai suatu benteng pertahanan dalam melawan musuh.

Penari dalam tari Jepin Gerangkang berjumlah ganjil dan tidak boleh genap. Hal ini dikarenakan properti tali yang digunakan pada tari Jepin ini berjumlah sembilan tali, agar anyaman simbol pola ikatnya yang di inginkan berbentuk sempurna. Tari Jepin Gerangkang mempunyai sebelas gerakan, satu di antara gerakan ada sembilan langkah dasar yang digunakan untuk tari Jepin Gerangkang. Adapun nama-nama sembilan langkah dasar dalam tari Jepin Gerangkang, langkah bismillah/ awal, langkah bujur, langkah simpang, langkah serong, langkah sorong jarum, langkah tahto, langkah gantung, langkah biasa, dan langkah gencat.

Tari Tradisional Kalimantan Barat : Jepin GerangkangPeneliti memilih mengkaji nilai sosial yang terdapat dalam simbol pola ikat tari Jepin Gerangkang sebagai fokus penelitian ini. Ada pun beberapa pertimbangannya pertama sebab rasa keingin tahuan peneliti mengenai tari Jepin Gerangkang baik itu gerakannya atau makna tari yang terdapat dalam tari Jepin ini, dan tari ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umum atau khusus dalam bidang seni tari, dan juga kurangnya penulisan atau pendokumentasian pada tari tradisi yang ada di Kalimantan Barat. Kedua dalam sebuah tarian tidak hanya sekedar menghibur, memilki makna simbol, dan makna gerak yang terdapat nilai estetika saja, akan tetapi juga mempunyai nilai-nilai berbudi luhur lainnya contohnya adalah nilai sosial.

Nilai berfungsi sebagai memberi isi pada kehidupan manusia, dan memberi arah atau tujuan untuk menentukan suatu kehidupan manusia mana baik dan mana buruk pada tingkat kemanusiaan. Menurut Ranjabar (2006:116) nilai itu adalah gabungan semua unsur kebudayaan yang dianggap baik atau buruk dalam suatu masyarakat, sebab itu pula masyarakat mendorong dan mengharuskan warganya untuk menghayati dan mengamalkan nilai yang dianggap ideal. Oleh sebab itu di butuhkan nilai yang berfungsi sebagai memberi arah suatu pandangan hidup masyarakat tentang sesuatu baik, menarik, serta memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat agar tidak salah dalam pandangan hidup.

Nilai terbagi atas beberapa macam satu di antaranya adalah nilai sosial. Nilai sosial ada sebab manusia memerlukan nilai sosial itu sebagai kebutuhan rohani manusia sebagai mahluk sosial dan berbudaya, yang disepakati bersama oleh anggota masyarakat dengan tujuan untuk mengatur hidup manusia dengan aturan-aturan yang tepat. Menurut Muin (2006:47) nilai sosial adalah kualitas perilaku, pikiran, dan karakter yang dianggap masyarakat baik dan benar, hasilnya diinginkan dan layak ditiru oleh orang lain. Nilai sosial adalah pandangan hidup yang memiliki tujuan baik dalam berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya, individu dengan suatu kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok lainnya.

Pada simbol pola ikat terdapat dua hubungan nilai sosial, yakni hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan alam. Mengenai hubungan simbol pola ikat dengan nilai sosial pada hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan alam, dikarenakan pada simbol pola ikatnya yang berbentuk sarang laba-laba mempunyai makna hubungan nilai sosial pada manusia. Contohnya pada jaringnya yang berbentuk pola lingkaran, yang menggambarkan kebersamaan dan kesatuan dalam berinteraksi manusia dengan masyarakat. Sedangkan hubungan nilai sosial manusia dengan lingkungan alam menurut sejarah munculnya tari Jepin Gerangkang dikarenakan adanya rasa kasih sayang dan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian Gerangkang. Rasa kasih sayang dan tanggung jawab adalah satu diantara contoh dari nilai sosial.

Tari Jepin Gerangkang mengalami masa-masa kejayaannya pada tahun era 1940an hingga 1970an dan mengalami masa kemunduran pada tahun 1990 hinggan 2000an. Tari Jepin Gerangkang adalah tarian berkelompok, tari Jepin ini dapat ditarikan oleh wanita dengan wanita, pria dengan pria, atau wanita dengan pria. Tari Jepin ini lebih mengedepankan gerakan pada kaki dan kelincahan saat menganyam pola ikat.

Pada tari tradisi dalam struktur gerak tarinya terdiri dari tiga bagian yaitu awal, tengah, dan akhir. Sama halnya dengan tari Jepin Gerangkang yang terdiri dari gerak awal, gerak tengah, dan gerak akhir. Paparan tentang struktur penyajian gerak tari yang terdiri dari gerak awal, gerak tengah, dan gerak penutup akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Gerak Awal

Gerak awal adalah gerakan untuk memulai tari Jepin Gerangkang, adapun gerakan itu gerakan membawa tali yang telah disusun di tempatnya yang berbentuk lingkaran menuju ketengah panggung, pembawa tali dalam garapan ini hanya satu orang saja. Gerakan itu diawali dengan berdiri di belakang lalu berjalan menuju ke tengah panggung dan meletakkan properti tali itu ke tengah. Setelah meletakkan tali itu, gerakan selanjutnya membungkukan badan dan penari lainnya memasuki panggung juga dengan membungkukan badan. Gerakan itu memiliki tujuan untuk hormat atau salam pembuka sebelum menarikan tari Jepin ini. Pada gerakan awal, penari banyak menggunakan langkah jepin, seperti langkah bujur, langkah biasa, langkah awal, langkah simpang, langkah serong dan langkah sorong jarum.

2. Gerak Tengah

Gerak tengah di tari Jepin Gerangkang adalah gerakan menganyam atau mengikat pola tali. Pada gerakan ini mempunyai tiga langkah yang khusus dalam mengikat tanpa adany pengembangan gerak, gerak itu terdiri dari langkah tahto, langkah gantung, dan langkah gencat. Berikut paparan tentang langkah-langkah gerak pada gerak tengah tari Jepin Gerangkang.

a. Langkah Tahto

Langkah tahto di tari Jepin Gerangkang terdapat di tengah gerak dan akhir gerak tahto di bagian tengah mengarahkan pada gerak penghubung awal mengambil tali dengan menganyam tali, sedangkan tahto akhir mengarahkan gerak selesai menganyam, dan membuka tali. Langkah ini adalah satu contoh dari gerak maknawi, sebab pada gerakan ini terdapat makna yang ingin disampaikan, yakni kegembiraan seseorang dalam menari.

Gerakan pada langkah tahto terdapat lima gerakan, yakni jongkok, menghentak pada kaki, membungkuk, loncat, dan berputar. Gerakan langkah ini hanya bergerak di tempat saja, sebab langkah tahto tidak menggunakan ruang yang besar, dan dalam ritme tari yang digunakan langkah tahto menggunakan ritme gerak yang sedang, sebab menyesuaikan irama musik beruas yang menggunakan tempo sedang. Hitungan langkah tahto yang digunakan pada tari Jepin Gerangkang adalah 3 x 8 hitungan, dan level gerak yang digunakan ada 3 level yaitu level tinggi, medium, dan rendah.

b. Langkah Gantung

Langkah gantung di tari Jepin Gerangkang terletak di bagian gerak menganyam, yakni saat proses menunggu menganyam, membuka anyaman, dan berpindah tempat antar delapan penari. Gerak langkah gantung termasuk contoh dari gerak murni, sebab gerak ini tidak mempunyai makna gerak hanya mempunyai unsur keindahan saja. Gerakan langkah gantung pada tari Jepin Gerangkang hanya bergerak melompat di tempat saja, dengan bergerak ke samping kiri dan kanan badan sambil memegang tali. Saat penari bergerak menghadap ke arah kanan badan, maka kaki kiri di angkat ke samping dan membentuk siku-siku, dengan gerakan melompat, dan sebaliknya saat penari bergerak menghadap ke arah kiri badan, maka kaki kanan di angkat ke samping dan membentuk siku-siku. Hitungan langkah gantung yang digunakan pada tari Jepin Gerangkang menggunkan hitungan 4 x 8 ditempat dan berpindah posisi antara penari hitungan ganjil dengan yang genap 2 x 8 dengan ritme yang sedang. Elemen dasar yang terdapat pada langkah gantung terdiri dari level dan desain. Level yang digunakan banyak menggunakan level tinggi, dan desain yang digunakan adalah desain sudut pada bagian kaki. Rasa seorang penari menggerakan langkah gantung yaitu gembira, sebab gerakan itu banyak menggunakan lompatan.

c. Langkah Gencat

Langkah gencat adalah langkah duble step, yakni gerakan melangkah pada kaki sebanyak dua kali. Langkah gencat pada tari Jepin Gerangkang di gerakan pada saat menganyam pola ikat dan membuka anyaman. Saat menganyam pola ikat hanya satu penari saja yang menggunakan langkah ini, sedangkan saat membuka anyaman semua penari menggunakan langkah ini. Untuk membuka anyaman, digunakan saat berpindah posisi antara penari hitungan ganjil dengan penari hitungan genap. Langkah gencat adalah contoh gerak murni yang diambil dari gerakkan sehari-hari, yaitu gerak melangkah oleh sebab itu langkah ini tidak mempunyai makna, hanya memberikan unsur nilai keindahan saja pada saat melangkah.

Hitungan yang digunkan langkah gencat pada tari Jepin Gerangkang, menggunkan hitungan 1 x 8 untuk posisi berpindah tempat saat membuka simpulan tali dan 4 x 8 untuk satu penari saat membuka anyaman. Elemen yang yang digunakan pada langkah ini menggunakan level tinggi pada bagian tubuh dan saat bergerak melangkah, ritme yang digunakan ritme cepat. Hitungan 1, 2, 5, dan 6 telapak kaki diangkat ke atas dengan bertumpu pada tumit,sedangkan pada hitungan ke 3, 4, 7, dan 8 telapak kaki menapak ke lantai disertai dengan gerak melangkah.

3. Gerak Akhir (Penutup)

Untuk mengakhiri sebuah tarian diperlukannya gerak penutup sebagai tanda selesai. Pada gerak akhir atau gerak penutup di tari Jepin Gerangkang adalah gerakan membuka anyaman pola ikat, dengan menggunakan tiga langkah pada gerak tengah. Perbedaanya ialah pada gerak akhir ini, penari bergerak berlawanan arah dari gerak saat menganyam pola ikat. Setelah membuka anyaman penari bergerak gerakan tahtim sambil berkumpul untuk menaruh tali ke tengah, selanjutnya penari bergerak memberi salam penutup dengan bergerak hormat badan menunduk ke bawah.

Dikutip dari :

KAJIAN NILAI SOSIAL DALAM POLA IKAT TALI TARI JEPIN GERANGKANG DI BATU LAYANG
Imas Hadfridar, Ismunandar, Imma Frestisari
Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik FKIP Untan