Seputar Pengertian, Konsep, Manfaat, Fungsi dan Pelaksanaan Kegiatan Seni dan Budaya Indonesia
Friday, March 27, 2015
Teknik Pergelaran Teater di Sekolah
Teknik adalah cara, upaya, strategi dan metode untuk memudahkan kerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Terkait teknik dalam pergelaran Teater dapat dipahami sebagai suatu cara dan upaya kalian bersama teman-teman satu kelas atau kelompok yang dibentuk untuk terlibat dalam merencanakan, mempersiapkan, mempergelarkan karya Teater yang kalian ciptakan.
Karya Teater yang Kamu ciptakan adalah hasil dari proses kreatif yang dilakukan bersama (kolektif). Karena itu di dalam mencipta karya Teater perlu dibangun etos kerja yang optimal dan saling percaya, Teknik pergelaran Teater yang dapat Kamu lakukan bersama-sama teman Kamu dalam pergelaran dapat dibagi dalam dua wilayah kegiatan. Wilayah kegiatan artistik dan non artistik. Kegiatan wilayah artistik bertugas untuk menyiapkan materi (produk) Seni Teater. Wilayah non artistik bertugas sebagai penyelenggara pergelaran.
Pelaksana wilayah kegiatan artistik dan non artistik dalam pergelaran Teater dapat dilakukan secara bersama-sama dan bekerjasama dengan cara membentuk panitia pergelaran. Wilayah kerja bagian artistik dapat ditanggungjawabi oleh Kamu, Teman Kamu, Guru atau Instruktur Teater yang mampu untuk mewujudkan karya Teater. Selanjutnya, untuk wilayah bagian non artistik dapat dilakukan dengan cara mengangkat Kamu atau Teman Kamu sebagai Ketua pelaksana produksi dengan sebutan popular “Pimpinan Produksi“.
Dengan demikian, secara teknis pergelaran Teater adalah suatu kegiatan yang tidak dapat lepas dari kegiatan manajemen dengan memfungsikan sumber-sumber yang ada, meliputi; siswa, guru dan orang tua; keuangan; metode; mesin/teknologi; bahan dan alat; sampai pada pemasaran jika memungkinkan.
Pergelaran Teater dapat kalian lakukan dengan cara pembagian wilayah kerja; artistik dan non artistik, meliputi kegiatan: perencanaan, persiapan, pergelaran dan pasca pergelaran.
Unsur-unsur Pergelaran Teater
Suatu pergelaran seni, termasuk pergelaran Teater mempunyai persyaratan. Persyaratan dimasksud sebagai unsur penting dalam terselenggaranya pergelarann Teater. Tanpa adanya persyaratan itu, pergelaran seni atau peristiwa seni tak akan terwujud. Unsur penting itu meliputi adanya unsur Panitia pergelaran, materi pergelaran Teater, dan penonton.
1. Panitia Pergelaran
Panitia adalah sekelompok orang-orang yang membentuk suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, organisasi yang dibentuk dengan system panitia. Dengan system kepanitiaan dalam pergelaran seni, termasuk pergelaran Teater sangat cocok untuk diterapkan. Karena pembentukan organisasi dengan system panitia mempunyai kemudahan, yakni mudah dibentuk dan mudah pula untuk dibubarkan tanpa adanya ikatan kerja yang rumit.
Organisasi dalam system kepanitiaan ini, menempatkan pimpinanya bersifat kolegial atau dewan, artinya terdiri dari beberapa orang. Segala keputusan diambil dan dipertanggungjawabkan secara bersama-sama dengan waktu pergelaran bersifat praktis, artinya panitia dengan cepat dibentuk dan cepat pula untuk dibubarkan setelah laporan kegiatan dilaksanakan. Penyelenggaraan pergelaran mempunyai dua komponen penting, yakni adanya: panitia artistik atau pemateri atau kreator seni dibawah pimpinan seorang Sutradara (art director) dan panitia non artistik atau penggiat seni dipimpin oleh seorang Pimpinan Produksi yang dipilih dan diangkat atas musyawarah kelas atau teman dalam kelompok yang dibentuk.
2. Materi Pergelaran Teater
Syarat kedua sebagai unsur penting di dalam pergelaran Teater adanya unsur materi seni atau karya teater. Materi pergelaran yang dimaksud adalah wujud karya teater yang dibangun melalui proses kreatif melalui tahapan dengan menggunakan medium tertentu bersifat kolektif (bekerja bersama) dengan wilayah kerja dan tanggungjawab secara bersama (kolaborasi). Unsur penting selanjutnya di dalam pergelaran teater adalah hadirnya penonton
3. Penonton
Penonton adalah orang-orang atau sekelompok manusia yang sengaja datang untuk menyaksikan tontonan. Penonton dapat juga dikatakan sebagai apresiator, penikmat, penilai, dst. pada materi seni (seni teater) yang di pergelarkan. Oleh sebab itu, kedatangan penonton dalam suatu pergelaran adalah bersifat mutlak. Tanpa penonton, pergelaran teater adalah kesia-siaan atau kegiatan mubazir. Karena pergelaran teater membutuhkan suatu penilaian, penghargaan atau kritikan dari sebagai Apresiator Teater orang lain dalam rangka menciptakan peristiwa seni sebagai peristiwa budaya.
Menonton, mengapresiasi adalah sikap menerima, menghargai dan sekaligus mengkritisi pesan yang disampaikan pergelaran karya seni. Penilaian pada pergelaran seni untuk setiap penonton sangatlah berbeda dan bersifat relative. Oleh sebab itu, berpijak pada keragaman latarbelakang penonton dan pengalaman seni, penonton dalam hubungan pergelaran seni (Teater) dapat dibedakan dalam tiga golongan, yakni penonton: awam, tanggap dan kritis.
1. Panitia Pergelaran
Panitia adalah sekelompok orang-orang yang membentuk suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, organisasi yang dibentuk dengan system panitia. Dengan system kepanitiaan dalam pergelaran seni, termasuk pergelaran Teater sangat cocok untuk diterapkan. Karena pembentukan organisasi dengan system panitia mempunyai kemudahan, yakni mudah dibentuk dan mudah pula untuk dibubarkan tanpa adanya ikatan kerja yang rumit.
Organisasi dalam system kepanitiaan ini, menempatkan pimpinanya bersifat kolegial atau dewan, artinya terdiri dari beberapa orang. Segala keputusan diambil dan dipertanggungjawabkan secara bersama-sama dengan waktu pergelaran bersifat praktis, artinya panitia dengan cepat dibentuk dan cepat pula untuk dibubarkan setelah laporan kegiatan dilaksanakan. Penyelenggaraan pergelaran mempunyai dua komponen penting, yakni adanya: panitia artistik atau pemateri atau kreator seni dibawah pimpinan seorang Sutradara (art director) dan panitia non artistik atau penggiat seni dipimpin oleh seorang Pimpinan Produksi yang dipilih dan diangkat atas musyawarah kelas atau teman dalam kelompok yang dibentuk.
2. Materi Pergelaran Teater
Syarat kedua sebagai unsur penting di dalam pergelaran Teater adanya unsur materi seni atau karya teater. Materi pergelaran yang dimaksud adalah wujud karya teater yang dibangun melalui proses kreatif melalui tahapan dengan menggunakan medium tertentu bersifat kolektif (bekerja bersama) dengan wilayah kerja dan tanggungjawab secara bersama (kolaborasi). Unsur penting selanjutnya di dalam pergelaran teater adalah hadirnya penonton
3. Penonton
Penonton adalah orang-orang atau sekelompok manusia yang sengaja datang untuk menyaksikan tontonan. Penonton dapat juga dikatakan sebagai apresiator, penikmat, penilai, dst. pada materi seni (seni teater) yang di pergelarkan. Oleh sebab itu, kedatangan penonton dalam suatu pergelaran adalah bersifat mutlak. Tanpa penonton, pergelaran teater adalah kesia-siaan atau kegiatan mubazir. Karena pergelaran teater membutuhkan suatu penilaian, penghargaan atau kritikan dari sebagai Apresiator Teater orang lain dalam rangka menciptakan peristiwa seni sebagai peristiwa budaya.Menonton, mengapresiasi adalah sikap menerima, menghargai dan sekaligus mengkritisi pesan yang disampaikan pergelaran karya seni. Penilaian pada pergelaran seni untuk setiap penonton sangatlah berbeda dan bersifat relative. Oleh sebab itu, berpijak pada keragaman latarbelakang penonton dan pengalaman seni, penonton dalam hubungan pergelaran seni (Teater) dapat dibedakan dalam tiga golongan, yakni penonton: awam, tanggap dan kritis.
- Penonton awam adalah penonton penikmat seni dengan kecenderungan kurang atau tidak dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman seni. Dalam hal ini wawasan dan pengalaman seni Teater.
- Penonton tanggap, artinya penonton bersikap responsif dengan kecenderungan mempunyai wawasan dan pengalaman seni, tetapi tidak ditindaklanjuti untuk mengulas pada apa yang pergelaran yang ditontonnya cukup untuk dipahami dan dinikmati sendiri.
- Penonton kritis, adalah penonton dengan bekal keilmuan dan pengalaman seni lalu melakukan ulasan atau menulis kritik pergelaran dan dipublikasikan dalam forum ilmiah, diskusi sampai media cetak dan elektronik.
Wednesday, March 25, 2015
Unsur-unsur pada Seni Rupa 2 Dimensi
Unsur-unsur Seni Rupa 2 Dimensi harus difahami oleh seorang seniman agar dapat menghasilkan sebuah karya yang baik. Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa dibagi 2, yaitu karya seni rupa dua dimensi yang mempunyai dua ukuran dan karya seni rupa tiga dimensi yang mempunyai tiga ukuran atau mempunyai ruang.
Berdasarkan fungsinya, karya seni rupa ada yang dibuat dengan pertimbangan utama untuk memenuhi fungsi praktis. Karya seni rupa semacam ini dikategorikan dalam jenis karya seni rupa terapan (applied art). Pembuatan karya seni (rupa) terapan ini biasanya melalui proses perancangan (desain). Pertimbangan aspek-aspek kerupaan dalam karya seni terapan berfungsi untuk memperindah bentuk dan tampilan sebuah benda serta meningkatkan kenyamanan penggunaanya.
Selain berdasar bentuk (dimensi) dan fungsinya, karya seni rupa juga digolongkan berdasar karakteristik media, teknik, bahan serta orientasi pembuatannya. Berdasarkan karakteristik ini kita mengenal berbagai jenis karya seni rupa seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni kriya dan desain.
Unsur-unsur seni rupa 2 dimensi adalah :
1) Garis (line)
Garis adalah unsur fisik yang mendasar dan penting dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Garis mempunyai dimensi memanjang dan mempunyai arah serta sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak dan seterusnya. Garis dapat juga digunakan untuk mengomunikasikan gagasan dan mengekspresikan diri. Garis tebal tegak lurus misalnya, dapat memberi kesan kuat dan tegas, sedangkan garis tipis melengkung, memberi kesan lemah dan ringkih. Karakter garis yang dihasilkan oleh alat yang berbeda akan menghasilkan karakter yang berbeda pula.
2) Raut (Bidang dan Bentuk)
Unsur rupa lainnya adalah “raut” yang adalah tampak, potongan atau wujud dari suatu objek. Istilah ”bidang” biasanya digunakan untuk menunjuk wujud benda yang cenderung pipih atau datar sedangkan ”bangun” atau ”bentuk” lebih menunjukkan kepada wujud benda yang mempunyai volume (mass).
3) Ruang
Unsur ruang dalam sebuah karya seni rupa 2 dimensi menunjukan kesan dimensi dari obyek yang terdapat pada karya seni rupa itu. Pada karya dua dimensi kesan ruang dapat dihadirkan dalam karya dengan pengolahan unsur-unsur kerupaan lainnya seperti perbedaan intensitas warna, terang-gelap, atau menggunakan teknik menggambar perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal).
4) Tekstur
Tekstur atau barik adalah unsur rupa yang menunjukan kualitas taktis dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu objek pada karya seni rupa. Berdasarkan wujudnya, tekstur dapat dibedakan atas tekstur asli dan tekstur buatan. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba, sedangkan tekstur buatan adalah kesan permukaan objek yang timbul pada suatu bidang sebab pengolahan unsur garis, warna, ruang, dan terang-gelap.
5) Warna
Warna adalah unsur rupa yang paling menarik perhatian. Menurut teori warna Brewster, semua warna yang ada berasal dari tiga warna pokok (primer) yaitu merah, kuning dan biru. Dalam berkarya seni rupa terdapat beberapa teknik Contoh penggambaran tekstur penggunaan warna, yaitu secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik.
6) Gelap-Terang
Unsur gelap terang pada karya seni rupa timbul sebab adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya tingkat nada warna (value) yang berbeda. Bagian yang terkena cahaya akan lebih terang dan bagian yang kurang terkena cahaya akan tampak lebih gelap.
Penataan unsur-unsur visual pada sebuah karya seni rupa menggunakan prinsip-prinsip dasar berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh seniman dan perupa pada biasanya dapat membentuk sebuah karya seni baik dan indah. Kaidah atau aturan baku ini disebut komposisi, berasal dari bahasa latin compositio yang artinya menyusun atau menggabungkan menjadi satu. Komposisi dapat mencakup beberapa prinsip penataan seperti: kesatuan (unity); keseimbangan (balance) dan irama (rhythm), penekanan, proporsi dan keselarasan. Prinsip-prinsip dasar ini adalah unsur non fisik dari karya seni rupa.
Berdasarkan fungsinya, karya seni rupa ada yang dibuat dengan pertimbangan utama untuk memenuhi fungsi praktis. Karya seni rupa semacam ini dikategorikan dalam jenis karya seni rupa terapan (applied art). Pembuatan karya seni (rupa) terapan ini biasanya melalui proses perancangan (desain). Pertimbangan aspek-aspek kerupaan dalam karya seni terapan berfungsi untuk memperindah bentuk dan tampilan sebuah benda serta meningkatkan kenyamanan penggunaanya.
Selain berdasar bentuk (dimensi) dan fungsinya, karya seni rupa juga digolongkan berdasar karakteristik media, teknik, bahan serta orientasi pembuatannya. Berdasarkan karakteristik ini kita mengenal berbagai jenis karya seni rupa seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni kriya dan desain.
Unsur dan Objek Karya Seni Rupa 2 Dimensi
Unsur-unsur seni rupa 2 dimensi adalah :
1) Garis (line)
Garis adalah unsur fisik yang mendasar dan penting dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Garis mempunyai dimensi memanjang dan mempunyai arah serta sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak dan seterusnya. Garis dapat juga digunakan untuk mengomunikasikan gagasan dan mengekspresikan diri. Garis tebal tegak lurus misalnya, dapat memberi kesan kuat dan tegas, sedangkan garis tipis melengkung, memberi kesan lemah dan ringkih. Karakter garis yang dihasilkan oleh alat yang berbeda akan menghasilkan karakter yang berbeda pula.
2) Raut (Bidang dan Bentuk)
Unsur rupa lainnya adalah “raut” yang adalah tampak, potongan atau wujud dari suatu objek. Istilah ”bidang” biasanya digunakan untuk menunjuk wujud benda yang cenderung pipih atau datar sedangkan ”bangun” atau ”bentuk” lebih menunjukkan kepada wujud benda yang mempunyai volume (mass).
3) Ruang
Unsur ruang dalam sebuah karya seni rupa 2 dimensi menunjukan kesan dimensi dari obyek yang terdapat pada karya seni rupa itu. Pada karya dua dimensi kesan ruang dapat dihadirkan dalam karya dengan pengolahan unsur-unsur kerupaan lainnya seperti perbedaan intensitas warna, terang-gelap, atau menggunakan teknik menggambar perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal).
4) Tekstur
Tekstur atau barik adalah unsur rupa yang menunjukan kualitas taktis dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu objek pada karya seni rupa. Berdasarkan wujudnya, tekstur dapat dibedakan atas tekstur asli dan tekstur buatan. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba, sedangkan tekstur buatan adalah kesan permukaan objek yang timbul pada suatu bidang sebab pengolahan unsur garis, warna, ruang, dan terang-gelap.
5) Warna
Warna adalah unsur rupa yang paling menarik perhatian. Menurut teori warna Brewster, semua warna yang ada berasal dari tiga warna pokok (primer) yaitu merah, kuning dan biru. Dalam berkarya seni rupa terdapat beberapa teknik Contoh penggambaran tekstur penggunaan warna, yaitu secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik.
6) Gelap-Terang
Unsur gelap terang pada karya seni rupa timbul sebab adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya tingkat nada warna (value) yang berbeda. Bagian yang terkena cahaya akan lebih terang dan bagian yang kurang terkena cahaya akan tampak lebih gelap.
Penataan unsur-unsur visual pada sebuah karya seni rupa menggunakan prinsip-prinsip dasar berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh seniman dan perupa pada biasanya dapat membentuk sebuah karya seni baik dan indah. Kaidah atau aturan baku ini disebut komposisi, berasal dari bahasa latin compositio yang artinya menyusun atau menggabungkan menjadi satu. Komposisi dapat mencakup beberapa prinsip penataan seperti: kesatuan (unity); keseimbangan (balance) dan irama (rhythm), penekanan, proporsi dan keselarasan. Prinsip-prinsip dasar ini adalah unsur non fisik dari karya seni rupa.
Teknik-teknik Dasar dalam Seni Peran
Teknik-teknik dasar dalam seni peran tentu saja harus diketahui oleh seorang pelakon. Dalam memerankan suatu lakon dalam seni teater membutuhkan karakter yang cocok dengan cerita yang akan dipentaskan. Salah satu dari fungsi teater adalah sebagai media ekspresi. Oleh sebab itu, sebagai seorang pemain harus mampu mengekspresikan diri. Diperlukan teknik tekinik khusus di dalam bermain seni teater, sehingga karakter peran yang dimainkannya dapat dijiwai dengan baik. Adapun teknik teknik dalam bermain teater adalah seperti berikut ini:
1. Teknik Olah Tubuh
Pemain teater membutuhkan olah tubuh sebagai stamina pemain didalam memerankan suatu lakon sebab pementasan seni teater bisa berlangsung lama dan secara langsung, tidak seperti pada seni film yang bisa istirahat untuk lalu dilanjutkan kembali. Sehingga ketahan pemain harus benar benar dalam kondisi prima atau baik. Latihan latihan olah tubuh yang dapat dilakukan pemain teater adalah seperti berikut ini:
- Menggeleng dan memutar kepala. Gerakan ini dilakukan agar otot otot leher tidak kaku sehingga peredaran darah ke otak bisa lancar.
- Melemaskan otot otot tangan dengan cara lengan diputar, direntangkan ke atas, dan ke bawah.
- Menggerakkan kaki dengan cara tidur terlentang lalu kaki ditekuk dan diluruskan, kaki diangkat lalu diluruskan kembali.
- Membungkukkan badan dengan lemas lalu ditegakkan kembali.
2. Teknik Olah pikiran
Teknik ini diperlukan pemain untuk membantu dalam penjiwaan suatu lakon atau peran. Beberapa latihan ini adalah seperti berikut ini:
- Teknik Olah Pikiran dari Jiwa, teknik ini adalah pemutusan pikiran dengan perasaan, emosijiwa, serta rasa senang, sedih, kagum, percaya diri, bahagia, sakit hati, dan malu.
- Teknik olah pikiran dari mengingat karakter tokoh.
- Teknik olah pikiran dari Pancaindra, teknik ini adalah pemusatan pikiran dengan mengingat kembali tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan panca indra. Misalnya rasa manis, pahit, asam, pedas, asin, dingin panas, enk, mencium bau yang sedap, bau yang tidak sedap, mendengar suara jeritan, tertawa, suara lembut, melihat pemandangan yang indah dan suram.
Dari beberapa macam tekinik olah pikiran, hal hal yang harus dilakukan seoran pemain, antara lain adalah:
a. Harus Berkonsentrasi dengan baik.
b. Harus Fokus pada suatu hal.
c. Mempunyai Daya imajinasi.
d. Mampu melakukan observasi pada lingkungan.
e. harusbisa menghayati setiap peran yang dimainkan
f. Mampu melakukan improvisasi.
g. Dapat membangun suatu karakter tokoh atau lakon.
3. Teknik Olah Suara
Seorang pemain teater harus sanggup dalam berolah suara atau kata sebab hal ini menjai landasan utama, yaitu setiap kata yang diucapkan oleh pemain harus jelas dan sesuai dengan karakter yang dimainkannya sehingga bisa dipahami oleh penontonya. Untuk itu diperlukan beberapa teknik olah suara, antara lain:
- Teknik pernapasan baik (pernapasan diafragma)
- Teknik penguasaan artikulasi baik. Artikulasi adalah cara pengucapan vokal seperti a, i, u, e, o diftong seperti ai, au, konsonan seperti m, ny, n, ng.
- Diksi yang jelas
- Intonasi yang jelas.
- Melatih suara dalam berbagai posisi seperti duduk, berdiri, bergerak, dan berbaring.
Sunday, March 22, 2015
Perbedaan antara Teater dan Drama
Istilah drama dan teater mengandung pengertian yang berbeda. Berikut ini dipaparkan beberapa uraian tentang istilah drama dan teater. Dalam Kamus Istilah Sastra dikemukakan bahwa drama adalah karya sastra yang memiliki tujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog, lazimnya dirancang untuk pementasan panggung sedangkan teater adalah (1) istilah lain untuk drama dan (2) kumpulan karya drama seseorang atau suatu bangsa (Sudjiman (ed.) 1984: 20 dan 74).
Menurut M. Noor Said (2009: 1-3) teater berasal dari bahasa Yunani yaitu theatron yang berarti takjub memandang. Secara etimologis, teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium. Sementara, dalam arti luas teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Namun dalam arti sempit, teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media: percakapan, gerak, dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis. Ditunjang dengan dekorasi, musik, nyanyian, tarian, dan sebagainya. Misalnya wayang orang, ketoprak, ludruk, arja, reog, lenong, topeng, dagelan, dan sebagainya.Teater sebagai tontonan mempunyai dua bentuk, yaitu teater modern dan teater tradisional. Teater tradisional tidak menggunakan naskah. Sutradara hanya menugasi pemain untuk memainkan tokoh tertentu. Para pemain dituntut mempunyai spontanitas dalam berimprovisasi tinggi. Contoh teater tradisional antara lain ludruk (Jawa Timur), ketoprak (Jawa Tengah), dan lenong (Jawa Barat). Teater modern menggunakan naskah yang dipegang teguh, dipatuhi dan dilaksanakan seluruhnya. Penataan panggung, musik pengiring, penataan lampu, percakapan dan gerak pemain harus mengikuti naskah.
Sementara itu, pengertian drama yaitu kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh penonton, dengan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekorasi (seting), didasarkan atas naskah yang tertulis (hasil dari seni sastra) dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan tarian.
Kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bereaksi, bertindak. Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala yang terlihat dalam pentas/panggung) yang menimbulkan perhatian, kehebatan, dan ketegangan pada pendengar atau penonton. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan gerak di hadapan penonton.
Seni drama adalah suatu tontonan hasil perpaduan dari cabang seni lainnya antara lain:
1. Seni sastra untuk naskah cerita
2. Seni lukis untuk tata rias dan tata panggung
3. Seni musik untuk musik pengiring
4. Seni tari untuk gerak gerik pemain
5. Seni peran untuk pemeranan tokoh.
Beberapa istilah yang mempunyai kedekatan makna dengan drama, yaitu sebagai berikut.
1. Sandiwara
Istilah ini diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi yang berarti rahasia dan warah yang berarti pengajaran. Oleh Ki Hajar Dewantara istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang atau secara tidak langsung.
2. Lakon
Lakon mempunyai beberapa arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film, (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa.
3. Tonil
Istilah tonil berasal dari bahasa Belanda toneel, yang artinya pertunjukan. Istilah ini popular pada masa penjajahan Belanda.
4. Pentas
Pengertian sebenarnya adalah lantai yang agak tinggi, panggung, tempat pertunjukan, podium, mimbar, tribun.
5. Sendratari
Kepanjangan akronim ini adalah seni drama dan tari, artinya pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan sekelompok orang penari dan mengisahkan suatu cerita tanpa dialog.
6. Opera
Opera berarti drama musik, yaitu drama yang menonjolkan nyanyian dan musik.
7. Operet
Opera kecil, singkat, pendek.
8. Tablo
Tablo yaitu drama yang menampilkan kisah dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.
Adrian Darma Wijaya membedakan ciri-ciri drama dan teater sebagai berikut.
1. Drama
- drama tidak memerlukan pengucapan vokal yang cukup kuat, sebab diperkuat atau diambil oleh microfone
- emosi tidak perlu kuat, sebab akan diperkuat oleh kamera yang mengambil secara short shoot atau close up
- make up cukup tipis, sebab akan diperkuat oleh kamera
- pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang dipotong-potong menjadi sangat pendek-pendek sesuai dengan yang akan diceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai seperti yang dikehendaki oleh sutradara
2. Teater
- pengucapan vokal harus sangat kuat, sebab penampilan dilakukan di atas panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling belakang
- emosi atau perasaan harus ekstreem, sebab penampilan dilakukan di atas panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang
- make up harus ekstrem, sebab penampilan dilakukan di atas panggung dan make up harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang.
- adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, sebab tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang ditampilkan (http://groups.google.com/group/soc.culture.australian/)
Perbedaan drama dan teater adalah sebagai berikut.
1. Drama
- Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
- Menurut Moulton : Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
- Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
- Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
- Arti kelima drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
2. Teater
- ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”
- ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage)
- secara etimologi (asal kata), teater adalah gedung pertunjukan (auditorium).
- dalam arti luas teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya wayang orang, ludruk, lenong, reog, sulapan.
- dalam arti sempit teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar) didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik
(http://www.lokerseni.web.id/2011/04/perbedaan-drama-dengan-teater.html/)
Demikian beberapa uraian tentang perbedaan istilah drama dan teater. Semoga bermanfaat.
sumber : https://niken65.wordpress.com
Saturday, March 14, 2015
Pengertian, Ragam, Tema dan Gaya Seni Rupa Murni Daerah
A. Pengertian Seni Rupa Murni Daerah
Seni Rupa Murni Daerah merupakan Gagasan manusia yang berisi nilai – nilai budaya daerah tertentu yang diekspresikan melalui pola kelakuan tertentu dengan media titik, garis, bidang, bentuk, warna dan gelap terang yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu sehingga menghasilakan karya seni yang indah dan bermakna.
B. Ragam Seni Rupa Murni Daerah
1. Seni Lukis Daerah
Seni Lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa yang berdimensi dua. Melukis adalah kegiatan membubuhkan cat diatas bidang yang datar. Dan mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif. Nilai-nilai yang melekat pada lukisan dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki pelukisnya dan mengandung nilai budaya daerah yang bersangkutan. Contoh lukisan dari daerah Kalimatan dan Sumatera dapat kita lihat pada gambar berikut ini.
2. Seni Patung Daerah
Seni Patung adalah cabang dari karya seni rupa yang berdimensi tiga. Membuat patung berarti membuat benda tiga dimensi dengan bahan,alat,dan teknik tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna. Contoh patung dari daerah Jawa dapat dilihat pada gambar berikut.
C. Tema Seni Rupa Murni Daerah
Kebutuhan hidup manusia dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
·Manusia dan dirinya sendiri
·Hubungan manusia dengan manusia yang lain
·Hubungan manusia dengan alam sekitarnya
·Manusia dengan kegiatannya
·Manusia dengan alam benda
·Hubungan manusia dengan alam khayal
D. Gaya Seni Rupa Murni Daerah
Gaya seni rupa tradisional dapat dibedakan menjadi dua gaya, yaitu Primitif dan Klasik.
1. Primitif
Istilah primitif diambil dari kata Prima yang berarti pokok atau hal yang mendasar . Hal ini dapat dilihat dari kesederhanaan bentuk dan warnanya. Contoh seni patung bergaya primitif seperti terlihat pada gambar berikut ini.
2. Klasik
Klasik mengandung pengertian kuno atau zaman dahulu kala. Gaya klasik ini dipengaruhi oleh budaya India melalui agama Hindhu dan Budha. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan candi dan patung, seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Contoh seni patung bergaya klasik seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Seni Rupa Murni Daerah merupakan Gagasan manusia yang berisi nilai – nilai budaya daerah tertentu yang diekspresikan melalui pola kelakuan tertentu dengan media titik, garis, bidang, bentuk, warna dan gelap terang yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu sehingga menghasilakan karya seni yang indah dan bermakna.
B. Ragam Seni Rupa Murni Daerah
1. Seni Lukis Daerah
Seni Lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa yang berdimensi dua. Melukis adalah kegiatan membubuhkan cat diatas bidang yang datar. Dan mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif. Nilai-nilai yang melekat pada lukisan dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki pelukisnya dan mengandung nilai budaya daerah yang bersangkutan. Contoh lukisan dari daerah Kalimatan dan Sumatera dapat kita lihat pada gambar berikut ini.
![]() |
| contoh lukisan daerah Kalimantan |
![]() |
| contoh lukisan daerah Sumatera |
2. Seni Patung Daerah
Seni Patung adalah cabang dari karya seni rupa yang berdimensi tiga. Membuat patung berarti membuat benda tiga dimensi dengan bahan,alat,dan teknik tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna. Contoh patung dari daerah Jawa dapat dilihat pada gambar berikut.
![]() |
| contoh patung daerah Jawa |
C. Tema Seni Rupa Murni Daerah
Kebutuhan hidup manusia dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
- Kebutuhan Primer, yaitu yang berkaitan dengan kebutuhan pangan, sandang dan papan
- Kebutuhan Sosial, yang berkaitan dengan manusia yang lain.
- Kebutuhan Integratif, yang berkaitan dengan citarasa keindahan.
·Manusia dan dirinya sendiri
·Hubungan manusia dengan manusia yang lain
·Hubungan manusia dengan alam sekitarnya
·Manusia dengan kegiatannya
·Manusia dengan alam benda
·Hubungan manusia dengan alam khayal
D. Gaya Seni Rupa Murni Daerah
Gaya seni rupa tradisional dapat dibedakan menjadi dua gaya, yaitu Primitif dan Klasik.
1. Primitif
Istilah primitif diambil dari kata Prima yang berarti pokok atau hal yang mendasar . Hal ini dapat dilihat dari kesederhanaan bentuk dan warnanya. Contoh seni patung bergaya primitif seperti terlihat pada gambar berikut ini.
![]() |
| contoh seni patung bergaya primitif |
2. Klasik
Klasik mengandung pengertian kuno atau zaman dahulu kala. Gaya klasik ini dipengaruhi oleh budaya India melalui agama Hindhu dan Budha. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan candi dan patung, seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Contoh seni patung bergaya klasik seperti terlihat pada gambar berikut ini.
![]() |
| contoh seni patung bergaya klasik |
Pengertian dan Contoh Seni Rupa 2 dan 3 Dimensi
Berbagai karya seni rupa di sekeliling kita, mempunyai banyak macam ragamnya. Keragaman itu dapat terluhat dari bentuknya, warnanya, bahan bakunya, alat pembuatannya, fungsinya atau pemanfaatannya. Dari begitu banyak ragamnya tadi, para pakar membuat penggolongan mengenai jenis-jenis karya seni rupa.
Penggolongan atas jenis seni rupa adalah pembedaan antara karakteristik karya yang satu dengan yang lainnya. Misalnya pada binatang, penggolongan dapat didasarkan pada jenis kelamin jantan dan betina, berdasar karakteristik anggota tubuhnya, warna kulitnya dan sebagainya. Demikian juga dalam hal karya seni rupa, kita dapat membedakan jenisnya berdasar fungsi atau bentuknya.
Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa terbagi dua yaitu, karya dua dimensi dan tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah Karya seni rupa yang mempunyai dua ukuran yaitu panjang dan lebar, sedangkan karya seni rupa tiga dimensi mempunyai tiga ukuran yaitu panjang, lebar dan tebal atau dapat dikatakan mempunyai ruang. Contoh karya dua dimensi dan tiga dimensi dapat dilihat pada gambar berikut ini :
masing-masing daerah di Nusantara mempunyai bahan atau media yang berbeda sesuai dengan lingkungannya. Hal ini juga berlaku pada teknik pembuatan karya seni rupanya, walaupun biasanya semua teknik yang digunakan terdapat kemiripannya, seperti beberapa teknik berikut ini :
a. Karya seni rupa 2 dimensi :
b. Karya seni rupa 3 dimensi :
Contoh seni rupa 3 dimensi yaitu: Patung, Monumen, Bangunan, Guci, Relief, Vas bunga, Candi, Boneka dan lain lain.
Seni rupa dapat diklarifikasikan ke dalam seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi (tri matra). Karya seni rupa dua dimensi adalah jenis karya seni rupa yang penampilannya hanya memerlukan dua ukuran (matra). Sedangkan karya seni rupa tiga dimensi adalah jenis karya seni rupa yang ditentukan oleh tiga ukuran. Karya seni rupa tiga dimensi ini mempunyai massa atau meruang.
Pengertian dimensi adalah ukuran yang meliputi panjang, lebar, dan tinggi. Karya seni rupa yang hanya mempunyai panjang dan lebar disebut sebagai karya seni rupa dua dimensional. Sedangkan karya seni rupa yang mempunyai tiga ukuran disebut karya tiga dimensional atau trimatra. Karya seni tiga dimensi dapat dinikmati dari segala sudut pandang; dari depan, atas, samping, atau bawah. Tetapi karya seni rupa tiga dimensi yang dinikmati dari bawah tidak terlalu banyak, yaitu karya seni yang diletakkan dengan cara digantung atau melayang di angkasa.
Jika dirinci berdasar dimensinya:
Penggolongan atas jenis seni rupa adalah pembedaan antara karakteristik karya yang satu dengan yang lainnya. Misalnya pada binatang, penggolongan dapat didasarkan pada jenis kelamin jantan dan betina, berdasar karakteristik anggota tubuhnya, warna kulitnya dan sebagainya. Demikian juga dalam hal karya seni rupa, kita dapat membedakan jenisnya berdasar fungsi atau bentuknya.
Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa terbagi dua yaitu, karya dua dimensi dan tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah Karya seni rupa yang mempunyai dua ukuran yaitu panjang dan lebar, sedangkan karya seni rupa tiga dimensi mempunyai tiga ukuran yaitu panjang, lebar dan tebal atau dapat dikatakan mempunyai ruang. Contoh karya dua dimensi dan tiga dimensi dapat dilihat pada gambar berikut ini :
![]() |
| Contoh karya dua dimensi |
![]() |
| Contoh karya tiga dimensi |
masing-masing daerah di Nusantara mempunyai bahan atau media yang berbeda sesuai dengan lingkungannya. Hal ini juga berlaku pada teknik pembuatan karya seni rupanya, walaupun biasanya semua teknik yang digunakan terdapat kemiripannya, seperti beberapa teknik berikut ini :
a. Karya seni rupa 2 dimensi :
- Untuk menggambar atau melukis digunakan teknik garis , aquarel, pointilis, plakat, arsir atau dussel.
- Untuk grafis digunakan teknik cetak saring
- Untuk seni batik menggunakan teknik tutup-celup
b. Karya seni rupa 3 dimensi :
- Untuk patung digunakan teknik pahat, butsir, cor, cetak-tuang, anyaman, las sambung dan sebagainya.
Contoh seni rupa 3 dimensi yaitu: Patung, Monumen, Bangunan, Guci, Relief, Vas bunga, Candi, Boneka dan lain lain.
Seni rupa dapat diklarifikasikan ke dalam seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi (tri matra). Karya seni rupa dua dimensi adalah jenis karya seni rupa yang penampilannya hanya memerlukan dua ukuran (matra). Sedangkan karya seni rupa tiga dimensi adalah jenis karya seni rupa yang ditentukan oleh tiga ukuran. Karya seni rupa tiga dimensi ini mempunyai massa atau meruang.
Pengertian dimensi adalah ukuran yang meliputi panjang, lebar, dan tinggi. Karya seni rupa yang hanya mempunyai panjang dan lebar disebut sebagai karya seni rupa dua dimensional. Sedangkan karya seni rupa yang mempunyai tiga ukuran disebut karya tiga dimensional atau trimatra. Karya seni tiga dimensi dapat dinikmati dari segala sudut pandang; dari depan, atas, samping, atau bawah. Tetapi karya seni rupa tiga dimensi yang dinikmati dari bawah tidak terlalu banyak, yaitu karya seni yang diletakkan dengan cara digantung atau melayang di angkasa.
Jika dirinci berdasar dimensinya:
- Karya seni rupa dua dimensi , contoh: lukisan, gambar, batik, foto, ilustrasi, kaligrafi, hiasan pada piring, dll.
- Karya seni rupa tiga dimensi atau trimatra, contoh; patung, monumen, mebel. rumah, pesawat, sepatu, sandal, tas, dll.
Subscribe to:
Posts (Atom)









