Monday, November 14, 2016

Mengomunikasikan Kritik Musik


Setelah kamu memiliki pemahaman tentang langkah-langkah dan penulisan kritik musik maka muncul pertanyaan selanjutnya: bagaimana kritik musik itu dikomunikasikan? Ya! Kritik musik tersebut dapat dilakukan secara tertulis maupun lisan. Secara tertulis, kritik musik sebaiknya memiliki sistematika penulisan yang mencakup: Pendahuluan – Deskripsi – Analisis – Interpretasi – dan, Evaluasi sebagai bahan Kesimpulan. Bagaimana kamu melakukan tahapan-tahapan itu dalam tulisan? Mari awali dengan mengunjungi suatu pertunjukan atau konser musik. Perlu diingat bahwa musik yang akan dimainkan dalam pertunjukan atau konser tersebut harus benar-benar kamu pahami dengan baik. Kemudian, buatlah catatan-catatan tentang pertunjukan musik itu yang kamu pandang penting. Setelah itu, buatlah laporan tulisan yang terdiri dari:

1.Pendahuluan 
Pada bagian pedahuluan ini kemukakan latar belakang kritik yang berhubungan dengan pengalaman yang kamu peroleh setelah menyaksikan suatu konser musik. Dalam konser musik itu, kamu berperan sebagai pendengar, bukan pemain. Genre musik dalam konser itu sebaiknya merupakan genre musik yang kamu pahami dengan baik.

2.Deskripsi
Pada bagian deskripsi ini tuliskan seluruh informasi tentang penyelenggaraan pertunjukan atau konser musik itu. Misalnya, tuliskan tanggal, waktu, dan lokasi pertunjukan, siapa pemain musiknya, apa yang kamu saksikan dalam pertunjukan itu, jenis atau genre musik apa yang dimainkan, kondisi akustik ruang pertunjukan, tata panggung, dan sebagainya yang dapat kamu amati secara konkrit.
Mengomunikasikan Kritik Musik

3.Analisis
Pada bagian Analisis fokuskan pada musik yang dimainkan. Kamu amati bagaimana cara pemain musik memainkan karya-karya musik atau lagu mereka, seperti kemampuan musikal masing-masing pemain dalam memainkan musik, mengekspresikan musik, menginterpretasikan musik, keharmonisan dan keseimbangan permainan musik, pengkalimatan (phrasing) lagu, intonasi, dan lain-lain.

4.Interpretasi
Pada bagian Interpretasi kamu harus dapat memaknai musik atau lagu yang dimainkan dalam pertunjukan musik tersebut. Pemaknaan musik yang dimainkan dalam pertunjukan yang kamu saksikan tidak dapat terjadi apabila kamu tidak memiliki pemahaman yang cukup dalam tentang musik, pencipta, nilai-nilai estetik, dan pemahaman budaya yang terjadi ketika karya musik dihasilkan. Dalam bagian ini, kamu dituntut untuk memiliki beragam referensi yang diperoleh dari beragam sumber untuk melengkapi pengetahuan yang kamu miliki sebagai upaya untuk mengungkapkan makna dari musik yang dimainkan.

5.Evaluasi
Pada bagian Evaluasi kamu baru dapat memberi penilaian terhadap pertunjukan atau konser musik yang kamu saksikan. Namun, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, penilaian yang kamu tuliskan pada bagian ini bukan berupa penilaian-penilaian pribadi atau subjektif, tetapi dilandaskan pada analisis dan interpretasi yang telah kamu lakukan dalam tahap sebelumnya.

Pahami kelima cara mengkomunikasikan kritik musik melalui tulisan di atas. Kemudian, buatlah suatu laporan kritik musik yang mencakup kelima cara tersebut.

Sumber : Seni Budaya / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Langkah-langkah dan Penulisan Kritik Musik


Bagaimana kritik pedagogik dilakukan dalam pembelajaran musik di sekolah? Pada hakikatnya, aktivitas kritik seni berhubungan dengan aktivitas musik yang dilakukan secara konkrit. Berdasarkan teori kritik yang dikemukakan oleh Feldman (1967), sebagaimana dikutip oleh Bangun (2001), dalam teori kritik seni dikenal empat tahap kegiatan, yaitu: deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi atau penilaian. Untuk dapat mengemukakan kritik berdasar keempat tahap atau langkah itu, terlebih dahulu kita bahas dulu masing-masing pengertiannya.

Tahap deskripsi mengacu pada suatu proses pengumpulan data yang secara langsung diperoleh oleh kritikus. Dalam tahap ini, kritikus hanya mengemukakan hasil pengamatannya pada suatu objek, yaitu musik atau pertunjukan musik. Penilaian ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’; ‘benar’ atau ‘salah’ tidak masuk dalam tahap ini. Misalnya, mengemukakan pengamatan kritikus pada permainan musik murid lain dan mengemukakan bagaimana caranya siswa itu mengekspresikan musik yang dia mainkan. Dalam tahap ini murid yang memberi kritik tidak mengatakan bahwa permainan musik tidak ekspresif atau kurang bagus. Perhatikan contoh kritik musik dalam

Kriteria Standar
Kriteria utama musik pop adalah gampang dipahami sehingga wajib sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kebanyakan masyarakat. Musik pop ini wajib mampu menawarkan aspek identifikasi para penggemar dengan idolanya sehingga faktor non musikal tidak kalah penting, malah lebih penting (kasus terbaik adalah Madonna, sebab musiknya sendiri sangat polos dan tanpa makna apa pun, kemampuan vokal amat terbatas tetapi cara penampilan cara mempresentasikan diri sangat profesional dan menutup segala yang lain).
Pada sisi instrumentasinya semula menggunakan gitar, bas, drum set, vokal. Kemudian diperluas dengan keyboards, dan sebagainya. Akhirnya, tidak ada instrumentasi yang khas pada musik pop. Bisa saja penyanyi pop diiringi oleh orkes simfoni. Itu hanya aspek kuantitatif, bukan kualitatif. Bahkan zaman sekarang ini kebanyakan permainan perangkat musik diganti dan diprogram dengan computer sebab lebih murah dan lebih gampang untuk prinsip standarisasi.
Yang masih perlu ditambahkan di sini adalah liriknya. Teks suatu lagu pop nyaris 100% berkaitan dengan cinta dalam segala aspek. Dengan demikian, kenyataan ini cenderung memenuhi pemikiran, mimpi, khayalan kebanyakan remaja yang menganutnya.
Sumber: Dieter Mack, 2006

Perhatikan contoh di atas dan cobalah jawab pertanyaan berikut.

  1. Jelaskan tujuan penulis dalam tulisan di atas!
  2. Apakah penulisan kritik di atas menggambarkan fakta-fakta yang ada?
  3. Penjelasan Apakah di dalamnya sudah ada penilaian ‘bagus – buruk’ atau ‘benar – salah’?

Tahap analisis formal mengacu pada suatu proses analisis yang dilakukan siswa yang memberi kritik atau kritikus pada musik yang dimainkan. Dalam tahap ini, kritikus mengemukakan hasil analisisnya mengenai bunyi yang dihasilkan, baik nada, ritme, harmonisasi akor, dinamika, atau warna suara dari musik atau lagu yang dimainkan. Dengan kata lain, tahap analisis formal ini lebih menekankan pada elemen-elemen musik yang dimainkan. Perhatikan contoh kritik musik dalam tahap analisis formal:

Nyak Ina Raseuki (Ubiet): Remember Maninjau
Dampak dari pengembangan itu tidak menghilangkan gaya pop pada lagu itu sebab Ubiet tidak melaksanakan perubahan atau pengembangan secara utuh pada melodi dasar, tetapi hanya mengimprovisasi bagian awal, tengah, dan akhir lagu. Bagian untuk improvisasi yang dilakukan Ubiet sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Dotty Nugroho sebagai pencipta lagu. Sebagai penyanyi atau pesuara, Ubiet menginterpretasikan rancangan Dotty itu dengan gaya nyanyi berornamennya yang menyebabkan lagu ini terdengar seperti perpaduan gaya pop dan etnik Minang.
Improvisasi yang dilakukan Ubiet menyebabkan lagu itu berbentuk: improvisasi 1 – A – improvisasi 2 – B – improvisasi 3 – A’ – improvisasi 4 – B’ – Coda. Ubiet tidak sekedar melaksanakan perubahan-perubahan pada lagu yang akan direproduksi, tetapi mendiskusikan terlebih dahulu dengan pengiring musiknya. Fenomena ini memperlihatkan pengetahuannya yang diperoleh melalui model analitik. Pada bagian improvisasi, yaitu bar 1 – 14 (sampai hitungan ke-2), bar 30 – 34, bar 51 – 59 (sampai hitungan ke-2), dan bar 74 (pada hitungan ke-3) – 80, Ubiet seolah-olah mengimitasi bunyi instrumen tradisional Minangkabau, saluang. Dalam suatu artikel dituliskan mengenai gaya Ubiet dalam menyanyikan lagu itu bahwa, “lagu ini tidak hanya mengingatkan pendengar pada “ranah Minang”, tetapi juga suara saluang”. Namun dalam artikel itu pula Ubiet menegaskan bahwa dia tidak meniru suara saluang, tetapi mengolah atau memanipulasi bunyi saluang secara kreatif. Ubiet menjelaskan mengenai hal itu, “..., kalau hanya meniru tanpa memanipulasinya secara kreatif, kita sebenarnya tidak melaksanakan apa-apa”. Sumber: Susi Gustina, 2012
Langkah-langkah dan Penulisan Kritik Musik

Perhatikan contoh itu dan cobalah jawab pertanyaan berikut.

  1. Jelaskan tujuan penulis dalam tulisan di atas!
  2. Elemen-elemen musik yang dikemukakan penulis dalam tulisannya ?
  3. Apakah penulisan di atas memperlihatkan pandangan analitik seorang kritikus?


Tahap interpretasi mengacu pada suatu proses saat kritikus memaknai musik berdasar pemahaman dan analisis yang sudah dilakukannya dengan teliti. Menurut Bangun (2011), tahap ini tidak juga bertujuan untuk menilai musik yang diamati. Perhatikan contoh tahap interpretasi dalam kritik musik:

Realitas Pop yang Artifisial
Hugh Mackay, pada bab Introduction, dalam bukunya mengenai kajian gaya hidup dan budaya pop yang cukup memiliki pengaruh (berjudul Consumption and Everyday Life), menjelaskan setidaknya ada tiga hal yang bisa kita jadikan sebagai ciri atau penanda untuk redefinisi budaya pop dan artinya dalam kehidupan sehari-hari, yakni: waste/use up (apa yang masih ngetren atau apa yang sudah nggak musim), pleasure (sejauh mana lagu pop cukup asyik dinikmati), everyday practice (kaitan dengan pengalaman hidup sehari- hari. Misalnya lirik lagu SMS-nya Trio Macan yang akrab dengan gejala SMS-mania di kalangan anak muda) dan faktor lain yang cukup terkait, yakni related to our identity (warna musik atau makna lirik yang dianggap mewakili citra dan hasrat seseorang secara personal).
Karena itu eksistensi musik pop tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup dan fashion, sebagai ‘habitat alami’nya. Bahkan keberadaan dua unsur lain itu, gaya hidup dan fashion, akhirnya menjadi satu bagian tidak terpisahkan (istilah ngepopnya satu paket) sebagai sebuah produk kultur modernisme, dengan segenap bentuk komodifikasinya, yang di era cybernetrik ini justru semakin menjadi-jadi.
Sumber: Heru Emka, 2006

Perhatikan contoh itu dan cobalah jawab pertanyaan berikut.

  1. Jelaskan tujuan penulis dalam tulisan di atas!
  2. Makna apa yang ingin diungkapkan oleh kritikus dalam tulisan itu ?
  3. Apakah penulisan di atas memperlihatkan adanya penilaian dari kritikus?


Tahap evaluasi mengacu pada suatu proses saat kritikus menyatakan pandangan atau kritiknya pada musik yang dimainkan. Pada tahap ini lah kritikus memberi penilaian. Namun, penilaian yang diberikan oleh seorang kritikus bukan penilaian subjektif yang tidak berdasar, tetapi penilaian yang dilatarbelakangi oleh pemahaman mendalam pada musik, kemampuan menganalisis musik, dan kemampuan memaknai musik yang dimainkan. Inti dalam tahap ini adalah ‘baik’ atau ‘buruk’, ‘benar’ atau ‘salah’, atau ‘berhasil’ atau ‘gagal’. Penilaian pada ‘baik’, ‘benar’, atau ‘berhasil’ berhubungan dengan penilaian-penilaian positif yang ditemukan kritikus, sedangkan penilaian pada ‘buruk’, ‘salah’, atau ‘gagal’ berhubungan dengan penilaian-penilaian negatif. Apa pun bentuk penilaian itu, positif atau negatif, mempunyai tujuan baik dalam pembelajaran musik di sekolah, yaitu memotivasi serta mendukung potensi dan pengetahuan murid dalam bidang musik. Perhatikan kritik musik dalam tahap evaluasi berikut:
Bahwa gamelan itu asosiasinya Indonesia, sekalipun Thailand dan Filipina juga mempunyainya, tidak demikian halnya dengan karya-karya yang diilhami Indonesia tapi dengan instrumentasi non- gamelan. Debussy, Britten, de Leeuw, Poulenc, Schaat, dll, pada karya-karyanya tertentu sering membingungkan mereka yang suka mengkais-kais mencari sumbernya. Karena itu sikap tegas Jurrien Sligter dalam memilih karya-karya yang disuguhkannya, sangat penting maknanya bagi festival ini: bahwa Indonesia lebih ke masalah batin ketimbang sekadar wujud.
Sumber: Slamet A. Sjukur, 2006

Perhatikan contoh itu dan cobalah jawab pertanyaan berikut.

  1. Jelaskan tujuan penulis dalam tulisan di atas!
  2. Penilaian seperti apa yang diberikan oleh penulis pada pihak yang dikritik?
  3. Siapakah penulis dan mengapa dia menulis kritik seperti itu?


Sumber : Seni Budaya / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Jenis Kritik Musik Dalam Pembelajaran

Dalam bukunya Kritik Seni Rupa, Sem C. Bangun (2011) mengemukakan empat jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik, pedagogik, ilmiah, dan populer. Berdasarkan nama jenisnya, apakah kalian mengerti apa pengertian dari keempat jenis kritik itu?

Carilah informasi mengenai pengertian keempat jenis kritik itu dari bermacam-macam sumber yang dapat kalian peroleh. Tuliskan pengertian dari Kritik Jurnalistik, Kritik Pedagogik, Kritik Ilmiah, dan Kritik Populer

Di antara keempat jenis kritik itu, dalam bab ini kita akan lebih memfokuskan pembahasan pada kritik pedagogik. Biasanya, objek kritik adalah karya musik para siswa, baik yang dimainkan/ dinyanyikan secara individual/solo atau kelompok. Tujuan dari kritik pedagogik adalah untuk memotivasi bakat dan potensi murid di sekolah (Bangun, 2011). Mengapa kita perlu memahami kritik pedagogik? Mengapa kritik pedagogik dilihat dapat memotivasi bakat dan potensi murid di sekolah?

Kritik pedagogik dilihat penting untuk dipahami murid karena materi itu adalah bagian dari proses pembelajaran musik di sekolah, seperti halnya kalian mempelajari konsep-konsep musik, permainan musik, dan pertunjukan musik. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, di satu sisi, kritik pedagogik memiliki tujuan untuk membuat murid yang dikritik mengetahui kekurangannya dalam bermain musik dan memahami mengapa kekurangan itu terjadi. Selain itu, kritik pedagogik memiliki tujuan untuk memberi pengalaman pada murid yang dikritik atau siswa yang mengkritik untuk belajar berargumentasi atau berani mengemukakan pandangannya mengenai musik atau lagu.

Melalui pemahaman mengenai kritik pedagogik, seorang murid tidak hanya dapat menilai hasil karya musik murid lain dengan mengatakan: ‘benar’ atau ‘salah’, ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’ saja, tetapi murid tersebut dapat memberi penjelasan atas penilaiannya itu sebagai upaya untuk memotivasi bakat dan potensi murid lain. Upaya itu akan menjadi lebih baik apabila murid yang memberi kritik juga dapat memberi masukan atau input kepada murid yang dikritik.

Sumber : Seni Budaya / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Thursday, March 31, 2016

Seni Batu Alami Suiseki


Suiseki (水 石) adalah seni batu hias berasal dari Jepang. Biasanya seni Suiseki dibuat dengan mengambil bermacam-macam macam bentuk, seperti sesuatu hal yang mirip dengan sosok manusia, sosok binatang, bentuk lansekap, ataupun yang murni abstrak. Seni ini muncul awalnya dari Gongshi (Cina: 供 石; pinyin: gōngshí)

Seni batu suiseki hadir dengan bermacam-macam nama terutama di masyarakat Jepang, Taiwan dan Semenanjung Korea. Seperti di Jepang, mereka menyebutnya dengan nama suiseki yang maknanya “batu air”. Sedangkan di Korea menyebutnya dengan nama Su-Seok yang maknanya “batu berumur tua”. Di China sendiri menyebutnya dengan nama yang artinya”batu-batu indah”.

SEJARAH
Walaupun seni ini memiliki banyak sebutan, namun pengertiannya tetap sama yaitu batuan yang mempunyai nilai seni tinggi yang tercipta secara alamiah sebab proses alam yang berhubungan dengan air. Jika dilihat sekilas batu suiseki tidak memiliki kelebihan bahkan terlihat biasa saja. Tapi perhatikanlah secara seksama, batu suiseki ini dapat berbentuk menyerupai bentuk binatang, alam seperti gunung, tebing dan lainnya.
Seni Batu Alami Suiseki

Seni ini muncul kira-kira 1500 tahun yang lalu, sekitar tahun 618 hingga tahun 907. Saat itu masa kejayaan kerajaan Dinasti Tan dan Sung. Di negeri Tiongkok seni suiseki disebut dengan Shang-Sek atau Yah-Sek, yang mempunyai arti yaitu batu yang dapat dinikmati keindahannya dalam jenis dan arti yang sangat luas. Jika ditelusuri asal kata Sui-Sek dalam bahasa Cina adalah “batu air”.

Terdapat sebuah cerita rakyat sekitar 3000 tahun yang lalu di negeri Song, konon ada seorang rakyat biasa menemukan batu. Karena percaya bahwa batu yang ditemukan itu memiliki nilai tinggi maka batu itu disimpan baik-baik. Banyak tamu yang berkunjung kerumahnya selalu mnegamati batu itu dan mereka mulai menyukainya. Maka diawal Dinasti Shang sekitar 20 abad sebelum Masehi, kegemaran pada batu mulai memasyarakat dan menjadi populer.

PELUANG USAHA
Kepopuleran batu seni suiseki ini memiliki peluang bisnis. Kuncinya hanyalah memahami seni suiseki dan memiliki jiwa petualang. Soal harga, tentu sangat ditentukan oleh nilai artistik dari batu itu. Untuk itu sebenarnya diperlukan pemahaman mengenai seni suiseki itu sendiri. Terkadang penilaian subyektif lebih banyak bermain di sini. Namun, tetap saja ada ketentuan dan patokan dari nilai suiseki ini, seperti salah satunya adalah originalitas batu itu. Selain itu wajib dipastikan bahwa bentuk dari batu itu dibentuk oleh alam, bukan oleh tangan manusia.

SUISEKI DI INDONESIA
Bagi para penggemar suiseki, Negara Indonesia adalah surganya. Karena Negara Indonesia beriklim tropis dengan kondisi alam yang memungkinkan batu-batu indah ini gampang ditemukan.
Sumatera Barat adalah ladang emas suiseki. Mulai Sungai Ombilin, Batanghari, Sijunjung, Sawah Lunto sampai sungai di Payakumbuh, adalah tempat paling kaya akan batu suiseki. Jadi, tidak mengherankan jika seni suiseki di Indonesia kita tidak kalah menariknya dibandingkan suiseki dari Negara Korea, Jepang, bahkan Taiwan.

Namun dibutuhkan ketelatenan dan jiwa petualang tinggi untuk mendapatkan batu-batu yang mempunyai bentuk seni tinggi. Biasanya batu-batuan ini banyak terdapat di alam terbuka dan daerah-daerah yang dekat dengan aliran sungai.

Sumber : http://www.rudydewanto.com

Saturday, March 19, 2016

Motif Dalam Seni Ukir di Minangkabau


Salah satu motif ukir dari pulau Sumatera adalah dari Suatera barat, motif ukir terdapat pada bagian-bagian rumah Gadang. Berikut ini beberapa motif ukir Minangkabau.

Motif Lebah Bergayut
Motif mencerminkan mengenai rumah lebah madu yang biasanya menggantung di dahan pohon. Hal ini mengingat bumi Melayu Riau dahulunya sangat kaya akan pepohonan besar yang sebagian dijadikan tempat menggantungkan rumah lebah.
Motif Dalam Seni Ukir di Minangkabau
Motif Lebah Bergayut

Motif Itik Sekawan (Itik Pulang Petang) 
Motif ini menggambarkan tingkah laku satwa Itik yang selalu berjalan beriringan saat petang hari akan pulang ke kandang. Tingkah laku berjalan beriringan serasi, bersahabat, kompak, bersama-sama, menjadi contoh untuk manusia akan arti kehidupan. Hal ini pun lalu digambarkan dan menjadi suatu corak motif untuk tenun, tekat, ukir dan songket dengan nama Motif Itik Pulang Petang atau Motif Itik Sekawan.

Motif Kaluk Pakis (kaluk paku) 
Motif ini adalah gambaran pohon/tetumbuhan pakis/paku yang berkeluk-keluk atau meliuk-liuk, tidak hanya diperuntukkan untuk kerajinan tekat atau tenunan dan sejenisnya. Motif Kaluk Pakis/Paku lazim pula digunakan untuk ukiran bangunan dan ukiran benda-benda lainnya. Semua corak motif melayu disepadukan dengan teliti sehingga kelihatan serasi dan saling mengisi.

Motif pucuk rebung
Motif ini melambangkan harapan baik sebab bambu adalah pohon yang tidak gampang rebah oleh tiupan angin kencang sekalipun. Motif pucuk rebung selalu ada dalam setiap kain songket sebagai kepala kain atau tumpal kain itu. Penggunaan motif pucuk rebung pada kain songket dimaksudkan agar si pemakai selalu memiliki keberuntungan dan harapan baik dalam setiap langkah hidup.

Motif Selembayung
Selembayung adalah hiasan yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung bangunan belah bubung dan rumah lontik. Pada bagian bawah adakalanya diberi pula hiasan tambahan seperti tombak terhunus, menyambung kedua ujung perabung (tombak-tombak)

Motif Sayap Layang-layang atau Sayap Layangan
Hiasan ini terdapat pada keempat sudut cucuran atap. Bentuknya nyaris sama dengan selembayung. Setiap bangunan yang berselmbayung haruslah memakai sayap layangan sebagai padanannya. Letak sayap layang-layang pada empat sudut cucuran atap adalah lambang sari empat pintu hakiki, yaitu pintu rizki, pintu hati, pintu budi, dan pintu Illahi. Sayap layang-layang juga adalah lambang kebebasan, yaitu kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.

Motif Singap/Bidai
Bagian ini biasanya dibuat bertingkat dan diberi hiasan yang sekaligus berfungsi sebagai ventilas. Pada bagian menjorok keluar  di beri lantai yang disebut teban layar atau lantai alang buang atau disebu juga  Undan- undan.

Motif Dalam Seni Ukir dan Kerajinan di Sumatera Selatan


Sewet Songket

Sewet Songket adalah kain yang biasanya digunakan atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini bersahabat dengan kemban atau selendang. Bahan sewet songket ini ditenun secara cermat dengan mengunakan bahan benang Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain  Sewet Songket adalah kain yang biasanya digunakan atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini bersahabat dengan kemban atau selendang. Bahan sewet songket ini ditenun secara cermat dengan mengunakan bahan benang Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain. Oleh sebab itu sewet songket ini dibuat dengan bahan halus dan seni tinggi maka harganya cukup mahal. Biasanya digunakan pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan. Pakaian songke lengkap yang dikenakan oleh pengaten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran) Aesan Pengganggon (Paksangko) Aesan. Selendang Mantri Aesan Gandek (Gandik) dan sebagainya.
Motif Dalam Seni Kerajinan di Sumatera Selatan

Macam-macam Kain Songket:

  1. Songket benang mas Lepus dan warna-warni
  2. Songket benang mas Lepus Biasa
  3. Songket benang mas Lepus Jando Beraes (Hijau,merah dan Kuning)
  4. Songket benang Jando Penganten (Hijau dan Merah)
  5. Songket benang emas Bungo Inten
  6. Songket benang emas Tretes Midar atau Bidar
  7. Songket benang emas pulir Biru
  8. Songket emas Kembang Siku Hijau
  9. Songket benang emas Bungo Cino
  10. Songket benang Pacik
  11. Songket benang emas Cukitan


Sewet Tanjung

Sewet tajung adalah kain yang khusus di pakai untuk laki-laki kalau wanita ada kain Tajung khususnya pula yang disebut dengan kain Tajung Blongsong sedangkan kain Tajung khusus untuk pria adalah yang disebut dengan Gebeng dan ada lagi yang disebut dengan Tajung Rumpak atau Tajung Bumpak.Sewet Sewet Tajung dalam pembuatannya memakai benang emas meskipun tak penuh. Macam-macam Sewet Tajung adalah:

  1. Limar
  2. Limar PatutPetak-petak berwarna (Merah, Kuning, Biru, abu-abu dan lain sebagainya
  3. Gerbik
  4. Blongsong (khusus wanita)


Sewet Pelangi dan Jumputan Kain pelangi ini sangat beraneka ragam dan sangat indah. Bahannya pun dari benang kain sutra serta cat khusus yang tidak luntur. Pembuatannya tetap secara tradisional.
Sewet pelangi permukaannya licin dan halus serta bias dikepal dengan tangan sedangkan kain atau sewet Jumputan itu bunga-bunganya tampak seperti di jemput-jemput dengan benang sewaktu perebusan sehingga selesainya menjadi indah dan bagus.
Sewet Peradan    Sewet Peradan juga disebut Sewet Prada kain yang sudah jadi lalu di Prada dengan cat emas yang khusus untuk mengecat kain. Biasanya kain yang di prada adalah kain yang bagus baik bahan atau motifnya.
Sewet Batik Palembang  Selain kain-kain yang itu diatas ada juga kain batik. Batik Palembang memiliki cirri ; khusus dengan motif yang halus dan warnanya yang magis. Sewet Batik Palembang yang terkenal adalah Sewet Batik Jepri dan Batik Lasem.

Motif Dalam Seni Ukir di Sumatera Selatan
Motif Dalam Seni Ukir  di Sumatera Selatan

Dalam pola atau bentuk ukiran kayu, dua elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dari penjelmaan sesuatu pola khususnya dalam motif dan tehnik penyusunan selain berpungsi sebagai nilai artistik dan Ventilasi (Lobang Angin) juga memiliki fungsi berarti filsofi Seperti kita temui di bangunan-bangunan lama rumah Palembang dan bangunan lainnya banyak ditemui ukiran-ukiran kayu yang indah dan menarik sengga menampakan keanggunan dan keagungan budaya negeri dan masyarakat pembuatnya. Seni ukir Palembang mempunyai motif khusus yang berbeda dengan daerah lain. Pengaruh Cina atau Budha masih menonjol, namun guratannya lebih didominasi tumbuhan, bunga melati dan teratai serta tidak ada gambaran mengenai manusia atau hewan. Ciri ukiran Palembang sangat khas.  Semua motifnya bunga dan perwarnannya pun di dominasi warna kuning keemasan, warna dominan dalam ukiran Palembang. Kemilau warna yang dihasilkan dari cat warna emas inilah yang membedakannya dengan ukiran daerah lain, seperti misalnya dari Jepara. Badan lemari, daun pintu, tutup Aquarium atau bingkai cermin dan foto, misalnya selalu disaput cat warna emas. Sementara bagian lainnya dilapisi warna merah tua dan hitam. Gambar bunga mawar dengan warna hitam makin menonjolkan penampilan ukiran kayu Palembang. Biasanya jenis kayu yang digunakan untuk mengukir pun wajib lah jenis kayu tembesu yang keras dan kuat. Padahal dulu, ukiran Palembang hanya terbatas pada lemari yang fungsinya untuk menaruh kain songket. Bahan yang digunakan umumnya kayu berkualitas tinggi, terutama tembesu dan sejenisnya.


Ref : http://baralekdi.blogspot.com/

Wednesday, February 10, 2016

Motif Dalam Seni Ukir di Kalimantan


Kita pasti sudah tahu pulau Kalimantan adalah pulau terbesar di negara Indonesia. Kalimantan juga sangat terkenal dengan keanekaragaman seninya, terutama seni ukir. Motif seni ukir di Kalimantan pada dasarnya merupakan perpaduan antara suatu pola dasar yang memiliki artinya masing-masing, kemudian dikreasikan dalam berbagai perpaduan beberapa motif dasar sehingga menjadi satu kesatuan rangkaian makna yang berarti. Bagaimana motif dalam seni ukir di Kalimantan ? Mari simak artikel ini.

Pengertian Seni Ukir

Seni ukir adalah  seni membentuk gambar pada kayu, tempurung, bambu, batu, logam dan bahan lainnya.

Berbicara tentang seni ukir tidak bisa dipisahkan dari kayu. Yah, kayu digunakan sebagai bahan dasar untuk mengikir sebuah motif yang cantik dan indah.

Beberapa kota di Indonesia terkenal dengan seni ukirnya dengan motif yang berbeda-beda dan salah satunya kalimantan. Kalimantan adalah salah satu kota yang dikenal dengan kekayaan hutannya yang juga menjadi penghasil dari kayu terbesar.

Ada beberapa tempat di Kalimantan yang menjadi pusat terbesar dari seni ukir dengan motif yang luar bisa yang bisa kalian jumpai.

Motif Ukiran Kalimantan Timur (Dayak)

Kalimantan Timur terkenal dengan kayu ulin nya yang kuat keras dan tahan lama sampai ratusan tahun apabila di pulau jawa terkenal dengan jati dan ukiran nya di kalimantan juga terdapat ukiran yang diukir pada kayu ulin yang bisa dibuat menjadi meja, kursi, tameng, ranjang, daun pintu, sumpitan, gasing dan lain-lain. Pada benda-benda itu diukir dengan motif ukiran Dayak sehingga apabila dijual harganya puluhan juta bahkan ratusan juta.


Suku Dayak adalah masyarakat nan hayati di hutan-hutan Kalimantan, motif ukirannya pun sering mengambil bentuk alam, yaitu tumbuhan, satwa, serta bermacam-macam simbol kepercayaan mereka. Mulai dari arsitektur bangunan rumah, peralatan rumah tangga, hingga perangkat kesenian termasuk ukiran, mengambil pola atau motif alam. Motif ukiran nan biasa dibuat berbentuk pohon, bunga (bunga anggrek), dan majemuk jenis hewan.

Lingkungan Suku Dayak nan hayati di hutan Kalimantan itu sendiri adalah satu karakteristik khas, akan melahirkan pengamatan nan khas pula, sehingga saat diaplikaskan dalam ukiran, akan sangat terlihat bagaimana khasnya ukiran Kalimantan ini. Misalnya saja saat mengambil ukiran bentuk kembang anggrek, tentu akan berbeda dengan ukiran kembang anggrek dari Jepara dan Bali,
Motif-motif ini dikerjakan dengan penuh ketukanan dan keuletan. Awalnya motif itu digambar dalam lembaran karton, lalu dijiplak ke permukaan kayu ulin nan akan diukir.

Motif Ukir Kalimantan Tengah

Motif ukiran Kalimantan Tengah adalah salah satu seni pahat yang melambangkan kekayaan budaya Kalimantan Tengah. Dalam membuat motif yang kaya seni itu masyarakat Kalimantan Tengah mempunyai ciri khas dalam seni ukiran yang sangat menarik.

Biasanya ukiran itu dipahat atau digambarkan di talawang atau semacam perisai yang berasal dari Kalimantan Tengah. Maksud dari gambar itu biasanya untuk menakut-nakuti musuh apabila sedang berperang.

Seiring dengan perkembangan jaman ukiran Kalimantan Tengah berubah fungsi menjadi hiasan di dinding-dinding perkantoran di tiang kantor dan sebagai pajangan di dinding, bahkan menjadi motif penghias di rumah.